Blog

​SURGA DUNIA dalam MENDIDIK ANAK

Posted by on 11:03 am in Akhlaq, Umum | 0 comments

​SURGA DUNIA dalam MENDIDIK ANAK

Sebenarnya … Mendidik anak itu menjadikan hati tenang Mendidik anak itu menyebabkan kebahagiaan Karena mendidik anak itu bagian dari kenikmatan SURGA DUNIA Tapi.., kenyataannya seringkali… Masih panik dalam mendidik anak. Masih marah-marah dalam mendidik anak. Masih menderita karena sebab mendidik anak. Masih membuat anak tertekan dalam mendidiknya. Itu bisa jadi CARA MENDIDIKNYA BELUM BENAR, karena mendidik itu asalnya mudah, tenang, menyenangkan, membuat  bahagia, dan terasa nikmat. Mendidik itu perintah Agama. Melakukan perintah Agama itu ibadah Sedangkan ibadah yang ikhlas dan benar (sesuai petunjuk Allah dan Rasul Nya) akan mendatangkan kebahagiaan. Kebahagiaan  sejati didunia ini dinamakan SURGA DUNIA Masuk SURGA DUNIA, menyebabkan seseorang akan masuk SURGA di AKHERAT.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: إنَّ فِيْ الدُّنْيَا جَنَّةً, مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَنْ يَدْخُلَ جَنَّةَ الآخِرَةِ. “Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa yang tidak memasuki surga dunia ini, maka dia tidak akan masuk surga di akherat” SURGA DUNIA itu adalah keimanan kepada Allah ta’ala, diantaranya meyakini bahwa: – Mendidik anak adalah perintah Allah ta’ala (QS. At Tahrim: 6) – Membenarkan petunjuk cara mendidik yang telah Rasulullah ajarkan . Sehingga keimanan itu menyebabkan keikhlasan kepada Allah ta’ala, dan pada akhirnya mendidik anak mengikuti petunjuk dari Nya dan Rasul Nya. Inilah kenikmatan mendidik … Inilah kenikmatan ibadah … Inilah ketenangan sejati … Inilah kebahagiaan sejati … Inilah SURGA DUNIA dalam mendidik anak-anak kita. Dan semoga Allah Ta’ala kelak memasukkan kita dan keluarga kita ke SURGA Nya di AKHERAT. Aamiin … Ditulis oleh : Kholik Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS)...

read more

​PEMBEBANAN dan PEMIKUL BEBAN

Posted by on 10:10 am in Akhlaq, Umum | 0 comments

​PEMBEBANAN dan PEMIKUL BEBAN

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MEMBACA, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MEMBACA. Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MENULIS, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MENULIS. Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak BERHITUNG, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA BERHITUNG. Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MENGHAFAL, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MENGHAFAL. Padahal membaca, menulis, berhitung, menghafal dan sejenisnya adalah BEBAN BERAT jika TIDAK ADA rasa CINTA untuk melakukannya. Kalau cinta TIDAK tumbuh, beban seRINGAN apapun akan terasa SANGAT BERAT. Kalau cinta TELAH tumbuh, beban seBERAT apapun akan terasa SANGAT RINGAN. Tumbuhkan cinta anak kepada bidang yang nantinya akan dibebankan kepadanya. Kalau cinta TIDAK berkunjung TUMBUH-TUMBUH, bisa jadi anak tidak berbakat di bidang tersebut, maka carilah bidang lain yang anak senangi. Jangan paksakan kepada anak bidang yang tidak dia senangi. Tetapi gali dan temukan bidang apa yang disenanginya. Lalu pupuk dan tumbuhkan kecintaannya, setelah cintanya tumbuh maka kemudian dengan sendirinya dia akan MEMINTA diberi beban. Gali bakat anak dengan memperbanyak aktifitas, lalu perhatikan aktifitasnya dengan 4E: Enjoy, Easy, Excellent, Earn ✅Enjoy       : Senang melakukannya ✅Easy        : Mudah melakukannya ✅Excellent : Bagus hasilnya ✅Earn         : Bermanfaat hasilnya Jika 4E terpenuhi pada aktifitas tertentu maka itulah bakatnya. Kalau sudah bakat, CINTA akan tumbuh dengan sendirinya, BEBAN akan diminta dengan sendirinya, dan hasilnya akan BAGUS dan BERMANFAAT. Inilah BAKAT/KARAKTER KINERJA Di sisi lain … Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak SHOLAT, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA SHOLAT. Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak PUASA, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA PUASA. Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak  MENGHAFAL AL QUR’AN, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA AL QUR’AN. Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak SYARI’AT, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA kepada PEMBERI SYARI’AT, yaitu Allah Ta’ala. Hal ini berarti mengajarkan TAKLIF (pembebanan Syari’at) tetapi tidak menyiapkan anak menjadi MUKALLAF (pemikul Syari’at) Sholat dan syari’at lainnya adalah beban . Tidak ada anak yang suka sholat, karena sholat adalah beban, kecuali telah tumbuh kecintaan kepada yang memerintah sholat yaitu Allah ta’ala. Kalau cinta kepada Allah telah tumbuh, maka beban Syari’at seberat apapun akan terasa ringan dilakukan, bahkan sampai berjihadpun akan ringan dilakukan.  CINTA kepada ALLAH harus tumbuh sebelum memikul beban SYARI’AT . Kalau cinta Allah TIDAK TUMBUH-TUMBUH, maka harus ditumbuhkan, seperti dengan keteladanan, dibacakan sejarah para Nabi dan Rasul, sahabat Nabi, orang-orang sholeh, serta dibimbing untuk belajar bersama alam agar tumbuh imaji positif terhadap Allah, belajar, dan alam. Tidak ada kata berbakat atau tidak berbakat pada beban syari’at, semua anak harus CINTA kepada ALLAH dan RasulNya, semua anak harus mampu memikul beban Syari’at nantinya saat mereka sudah BALIGH. Inilah AKHLAQ/Karakter Moral Cinta kepada Allah ditumbuhkan pada usia 0-7 tahun. Tidak ada pembebanan Syari’at pada usia ini, adanya hanyalah penumbuhan rasa cinta kepada Allah yaitu penumbuhan keimanan kepada Allah ta’ala, cinta belajar, dan cinta kepada alam.  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع (أبو داود والحاكم) “Perintahkan anakmu sholat pada saat umur 7 tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau sholat pada saat umur 10 tahun, dan pisahkan tempat tidurnya diantara...

read more

PEMAKSAAN CITA-CITA

Posted by on 2:08 pm in Akhlaq, Umum | 0 comments

PEMAKSAAN CITA-CITA

Pengalaman mendampingi pemetakan bakat siswa SMK, banyak hal yang menjadi bahan renungan, diantaranya banyak siswa dalam menentukan cita-citanya karena “pesanan” dari orang tuanya. Padahal sebenarnya cita-cita pesanan tersebut tidak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Dengan dalih bakti pada orang tua, akhirnya mereka harus terpaksa rela menempuh jalan  yang bukan untuknya. “Sebenarnya saya ingin kuliah di jurusan ini…, tapi orang tua ingin saya kuliah di jurusan itu”. Ungkapan siswa yang lain dengan wajah setengah hati, “ saya ingin bekerja sebagai ini…, tetapi orangtua ingin saya bekerja sebagai itu”.  Bukan hanya di SMK, di Pondok Pesantren pun muncul ungkapan senada dari seorang santri,  “ sebenarnya saya kelak ingin jadi ini…, tetapi orang tua ingin saya jadi seorang ustadz…” Data yang mengejutkan…!, 90% dari siswa yang dipetakan ingin melanjutkan jenjang berikutnya yang tidak sama dengan jurusan yang sekarang dia tekuni. Salah jurusan … Ya, mereka salah jalan … Saya yakin, jika di Pondok Pesantren di lakukan survey, banyak dari santri yang salah jurusan juga. Tidak semua santri ingin jadi ustadz. Banyak diantara mereka yang ingin berperan dalam masyarakat pada bidang yang bukan bidang diniyyah (Agama). Betul, setiap orang wajib hukumnya belajar Agama … Tetapi tidak semua orang berbakat dalam bidang Agama. Ada yang salah…? Jelas ada yang salah…! Karena ini adalah pemaksaan cita-cita…! Tanpa disadari orang tua telah menyesatkan anaknya, karena seorang anak dipaksa menempuh yang bukan jalannya. Akhirnya banyak anak yang menjadi “korban penyesatan” oleh orang tuanya. Tanpa disadari … Ya, ini terjadi tanpa disadari oleh orang tuanya. Karena tidak ada orang tua yang ingin menyesatkan anak-anaknya. Ini terjadi karena orang tua belum mengetahui jalan khusus yang telah Allah ta’ala ciptakan bagi anaknya. Imam Ibnul Qoyyim mengatakan: “Jika anak dipaksakan untuk menekuni bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan berhasil di bidang itu, dan akan luput potensi yang ada pada dirinya”. Lanjut beliau ringkasnya, “ Jika anak berbakat di bidang Agama maka itulah kesempatan baginya untuk mengukir ilmu Agama pada lubuk hatinya. Namun jika anak cenderung kepada ilmu keduniaan (seperti pertanian, perdagangan, industri dan lainnya) maka tidak mengapa diarahkan untuk menekuni bidang tersebut selama diperbolehkan oleh syari’at. Setiap orang akan dimudahkan untuk berperan pada bidang apa dia diciptakan” Mari kita gali potensi anak-anak kita … Kita temukan bakat anak-anak kita …  Kita temukan misi hidup anak-anak kita … Kita temukan jalan khusus bagi anak-anak kita … Karena dengan membimbing anak kita untuk berjalan pada jalan bakatnya, maka akan menjadi lebih hebat untuk berperan bagi peradaban. Allah ta’ala berfirman : “ Katakanlah wahai Muhammad, setiap orang akan bekerja sesuai bakatnya masing-masing, maka Tuhanmulah yang lebih tahu siapa yang paling benar jalannya” (QS. Al Isra’ :84) Bakat adalah karakter kinerja, maka agar kinerja sesuai dengan yang diharapkan, maka sangat penting ditumbuhkan juga karakter moralnya, yaitu Aqidah, Ibadah, Adab, dan Akhlaq. Sehingga terpenuhilah amanah yang dipikulkan pada setiap manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah ta’ala dan menjadi khalifah di muka bumi ini. Semoga Allah ta’ala selalu membimbing kita dan generasi masa depan bangsa kita.  Kholik Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS)...

read more

PABRIK MESIN itu bernama SEKOLAH

Posted by on 9:09 am in Akhlaq, Umum | 0 comments

PABRIK MESIN itu bernama SEKOLAH

Pabrik mesin memproduksi alat-alat/mesin-mesin untuk fungsi tertentu. Sekolah mendidik manusia untuk menjadi kompeten pada bidang tertentu. Setelah mesin keluar dari pabrik, lalu digunakan oleh orang untuk mengerjakan pekerjaan tertentu. Setelah siswa lulus sekolah, lalu dipekerjakan oleh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan tertentu. Mesin digunakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya. Tamatan sekolah dipekerjakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya. Pabrik menggunakan prosedur operasional untuk membuat mesin menjadi berfungsi. Sekolah menggunakan kurikulum untuk membuat siswa menjadi kompeten. Sekolah sama dengan pabrik? Hanya beda istilah dan obyek yang dikerjakan..! Tergantung bagaimana Anda menilainya. Apa yang harusnya beda..? Manusia bisa berempati, mesin tidak bisa. Manusia bisa memotivasi, mesin tidak bisa. Manusia bisa menyakini, mesin tidak bisa. Manusia bisa Ikhlas, mesin tidak bisa. Mesin diprogram oleh manusia yang terbatas pengetahuannya, tetapi manusia di program oleh Yang Tak Terbatas PengetahuanNya. Jelas…, manusia tidak sama dengan mesin Jelas juga…, seharusnya sekolah tidak sama dengan pabrik. Seharusnya sekolah tidak berat sebelah terlalu terkonsentrasi pada pendidikan HARD SKILL yang bisa tergantikan oleh mesin. Namun …juga seharusnya terkonsentrasi pada pendidikan SOFT SKILL yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Soft skill adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, dirinya, dan kepada Allah ta’ala. Setiap orang hendaknya memiliki Hard skill dan soft skill dalam mengarungi kehidupannya. Sehingga manusia dapat melakukan apa yang bisa dilakukan mesin, tetapi tidak semua yang bisa dilakukan manusia dapat dilakukan oleh mesin. Kholik Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS)...

read more

​PANEN SEBELUM WAKTUNYA

Posted by on 10:45 am in Akhlaq, Sekolah, Umum | 0 comments

​PANEN SEBELUM WAKTUNYA

Seorang Ibu mengeluh…. Anakku keras kepala, suka membantah dan banyak alasan kalau disuruh, padahal dia baru berumur 6 tahun.., apa jadinya kalau sudah besar nanti…? Sementara ibu yang lain menambahi… Iya.., kayak anakku juga, kalau disuruh duduk belajar susahnya minta ampun…, gak betah tinggal di rumah… Kalau begitu terus .., bagaimana masa depannya nanti…? Suram …! Nggak kalah serunya ibu yang lainnya lagi menimpali… Anakku baru berumur 5 tahun, sukanya menyendiri dan nggak suka kumpul-kumpul bersama teman-temannya, kalau kuper kayak gitu apa bisa sukses nantinya…? Dan masih banyak keluhan senada lainnya tentang itu.. Wajar.., dan sangat wajar seorang ibu khawatir terhadap anaknya yang keadaannya seperti itu. Namun ketahuilah wahai para orang tua… – Setiap anak itu hebat, Tidak ada anak yang bodoh. Adanya anak yang merasa bodoh karena potensi yang dimilikinya tidak diakui sebab dianggap kurang getrend. – Setiap anak itu pembelajar yang tangguh, Tidak ada anak yang malas belajar. Adanya anak tidak suka belajar yang bukan potensinya. – Setiap anak itu memiliki kemampuan unik, dan tidak bisa dibanding-bandingkan dengan anak yang lain Hanya saja banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa kupu-kupu yang indah, dulunya berbentuk ulat yang tidak menarik bahkan sebagian orang jijik kepadanya, kemudian menjadi kepompong, lalu jadilah kupu-kupu dewasa yang indah. Anak kecil yang keras kepala dan suka membantah, itulah sifat sang calon pemimpin. Anak kecil yang tidak betah dirumah, suka berkumpul temannya, itulah sifat yang dimiliki para ahli bidang sosial Anaka kecil yang suka menyendiri, itulah sang calon peneliti. Dan masih banyak lagi potensi-potensi kekuatan yang luar biasa pada diri anak , tetapi orang tua menganggapnya itu sebagai kelemahan bahkan dianggap kenakalan. Padahal sebenarnya sifat-sifat yang tidak menyenangkan itu ibarat perilaku ulat yang kelak akan menjadi kupu-kupu dewasa yang indah. Belajar tidak harus dengan buku dan duduk di kursi, tetapi dapat dilakukan ketika bermain, ngobrol dengan teman, bahkan bertengkar dengan kakak atau adiknyapun bisa jadi sarana belajar bagi anak. Pendidikan tidak bisa dilihat hasilnya setahun, dua tahun, bahkan lima atau sepuluh tahun.. Pendidikan akan dapat dilihat hasilnya setelah anak menjadi dewasa.. Kesolehan anak belum dapat dijustifikasi ketika anak masih kecil… Kesolehan akan tampak indah ketika mereka menginjak aqil baligh dan dewasa… Jikalau orang tua menuntut kesolehan anak tampak ketika masih kecil…, ibarat ingin memanen hasil cocok tanam sebelum waktunya. belum umur, belum ada buahnya, bahkan kalau diambili daun atau batangnya pohon akan tumbuh tidak sempurna bahkan bisa mati binasa.  Sabar dan sabar…, didik dan tunggu sampai aqil baligh Oleh: Kholik Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS)...

read more

Sesuatu yang Terlewat

Posted by on 7:06 am in Akhlaq, Umum | 0 comments

Sesuatu yang Terlewat

​Yang Terlewat … Apa yang terlewat pada anak-anak kita..? Sholat harus disuruh …, berarti  Karakter Keimanan terlewat… Belajar harus disuruh …, berarti Karakter pembelajar terlewat… Beraktifitas harus disuruh …, berarti Karakter Bakat terlewat … Tiga karakter yang harus tumbuh pada anak: 1. Karakter Keimanan (masa emas umur 0-7 tahun) 2. Karakter Pembelajar (masa emas umur 7-10 tahun) 3. Karakter Kinerja/Bakat (masa emas umur 10-Aqil Baligh) Ketiga-tiganya harus tumbuh sempurna sesuai karakter pertumbuhannya. Karakter pertumbuhan: 1. Usia 0-7 tahun :Masa emas pertumbuhan karakter keimanan a. Belum diperintah Sholat. Kenalkan sholat untuk menumbuhkan rasa senang kepada Sholat, tidak diajarkan tertib dan tata cara sholat karena tidak ada anak yang senang dengan gerakan-gerakan sholat, apalagi dipaksa atau dipukul. b. Bangkitkan imajinasi positif tentang Allah, Rosul, dan Islam. Dengan memberikan kisah-kisah teladan inspiratif tentang Allah, Rosul, dan Islam c. Bangkitkan egosentris. Merasa seolah-olah dirinya pusat alam semesta ini. Biarkan jika tidak mau berbagi. Diharapkan tumbuh rasa percaya dirinya. Apabila karakter keimanan telah tumbuh pada usia ini, diharapkan akan memiliki keimanan sepanjang hidupnya, akan mencintai Allah, Islam dan Ibadah seumur hidupnya. 2. Usia 7-10 tahun : Masa emas pertumbuhan karakter pembelajar a. Mulai diajarkan sholat Bimbing anak untuk melaksanakan sholat. Tidak ada pemaksaan apalagi pukulan. b. Anak mulai banyak bertanya. Jawab pertanyaan anak dengan sesederhana dan sekonkrit mungkin. Fasilitasi rasa ingin tahu anak sehingga anak dapat memperoleh jawaban melalui proses belajar yang dialaminya. c. Bangkitkan sosiosentris. Tanamkan pada diri anak bahwa dia akan hidup bersama orang lain. Maka bimbing anak untuk belajar bagaimana bersikap terhadap orang lain, sehingga akan bangkit kesadaran bahwa dirinya hidup didunia ini juga sebagai mahluk sosial. Apabila karakter pembelajar telah tumbuh pada usia ini, diharapkan akan menjadi pembelajar seumur hidupnya. 3. Asia 10-Aqil Baligh : Masa emas pertumbuhan karakter kinerja/Bakat a. Jika tidak mau Sholat boleh dipukul, dengan pukulan yang tidak membahayakan tetapi membuatnya jera. Apabila karakter keimanan dan karakter pembelajar sudah tumbuh sempurna pada fase sebelumnya, maka pada usia ini anak tidak perlu disuruh untuk sholat. b. Bakat harus sudah terpetakan. Fasilitasi pertumbuhan bakat anak, sehingga anak akan mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan keunikan dirinya dan terbentuknya kesadaran bahwa dirinya  berbeda dengan dengan orang lain. c. Magang Magang kepada maestro bakat dan maestro akhlaq.  Setelah aqil baligh diharapkan menjadi pribadi yang berakhlaq mulia, kreatif dan inovatif, dan berkarya diatas bakatnya. Jika terlewat… Maka perlu dilakukan recovery, atau pengulangan sesuai langkah yang seharusnya, hanya dilakukan dengan lebih intens dan effort yang maksimal. Ditulis : Abdulkholiq #Sekolah Karakter Imam Syafi’i  #Pendidikan...

read more

Masa Kecil Kurang Bahagia

Posted by on 9:44 pm in Akhlaq, Umum | 0 comments

Masa Kecil Kurang Bahagia

Pengalaman ketika mendampingi siswa sebuah SMK melakukan perjalanan kunjungan ke sebuah Industri di luar kota, banyak hal yang menjadi bahan renungan, terutama ketika melihat perilaku, dan tingkah polah siswa yang seharusnya sudah dewasa, namun kenyataannya masih seperti anak-anak. Selama perjalanan di dalam bus serasa mendampingi anak-anak yang masih duduk di bangku SD. Bagaimana tidak.., seharusnya pribadi-pribadi yang sudah Aqil baligh tersebut, mereka akan duduk tenang dan akan berbicara tentang hal-hal yang dilakukannya ketika sampai di industri nanti. Namun kenyataannya kesempatan ini digunakannya untuk meledakkan kegundahan dalam benaknya yang seolah-seolah selama ini terpenjara. Mereka bersorak riang, berteriak-teriak, bercanda, dengan gaya dan kekhasan masing-masing. Itulah kesempatan mereka untuk menumpahkan semua kebosanan, kepenatan, kegundahan, dan semua kotoran-kotoran yang ada dalam dirinya. Tak peduli apa tujuan perjalannya, yang penting hari ini adalah hari “kebebasan”. Masa kecil kurang bahagia…. Sebuah kalimat canda yang sering terungkap ketika melihat seeorang yang sudah dewasa berperilaku seperti anak-anak. Ternyata memang begitulah keadaan sebenarnya…,memang masa kecilnya kurang bahagia, masa kecilnya kurang bermain… tanpa disadari. Ya….!, Terlewat masa bermain ketika masih kecil, dan harus ditumpahkan hasrat bermainnya kapanpun kesempatan menyapa… Masa kecil identik dengan masa bermain.., sebagai mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menghabiskan waktu bermain ketika bersama anak-anak. Dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk bermain. Namun banyak dan bahkan sebagian besar pendidikan sekarang ini terlalu mengebiri hak bermain anak. Pada usia yang masih sangat dini anak-anak dipaksa untuk belajar ini, belajar itu yang sebenarnya belum waktunya untuk diajarkan. Setelah mereka besar mereka dipaksa mempelajari sesuatu yang sebenarnya itu bukan bakat dan kesenangannya. Sehingga hasrat bermain alamiahnya terpendam dan tidak tersalurkan. Maka jadilah bom waktu yang setiap saat bisa meledak, dan harus meledak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk men”start up” pendidikan anak mulai umur 10 tahun, dengan memukulnya jika tidak mau mengerjakan sholat. Maka berikan hak anak untuk bermain sampai umur 10 tahun. 0 – 10 tahun : bermain sambil belajar >10 tahun : belajar sambil bermain Bermain sambil belajar maksudnya dalam permainan-permainannya itu adalah belajar. Belajar sambil bermain maksudnya mempelajari apa yang disenanginya, sesuai bakatnya, sehingga seolah-olah belajarnya seperti bermain. Ditulis oleh : Kholik Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang #Pendidikan fitrah #Pendidikan manusia...

read more

Meraih Ampunan dengan Sholat Tasbih

Posted by on 7:22 pm in Akhlaq, Hadits, Umum | 0 comments

Meraih Ampunan dengan Sholat Tasbih

Oleh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul Diantara shalat yang disyariatkan adalah shalat tasbih, yaitu seperti yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berikut ini.   عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ أَلاَ أُعْطِيْكَ أَلاَ أُمْنِحُكَ أَلاَ أُحِبُّوْكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ عَشَرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ تَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وِسُوْرَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقُرْاءَةِ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشَرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تّهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِيْ أَرْبَعِ رَكْعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِيْ كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُ فَفِيْ كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ عُمْرِكَ مَرَّةً Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abbas bin Abdil Muththalib :”Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau jika aku memberimu ? Maukah engkau jika aku menyantunimu? Maukah engkau jika aku menghadiahkanmu? Maukah engkau jika aku berbuat sesuatu terhadapmu? Ada sepuluh kriteria, yang jika engkau mengerjakan hal tersebut, maka Allah akan memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosamu, yang pertama dan yang paling terakhir, yang sudah lama maupun yang baru, tidak sengaja maupun yang disengaja, kecil maupun besar, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Sepuluh kriteria itu adalah : Hendaklah engkau mengerjakan shalat empat rakaat ; yang pada setiap rakaat engkau membaca surat al-Fatihah dan satu surat lainnya. Dan jika engkau sudah selesai membaca di rakaat pertama sedang engkau masih dalam keadaan berdiri, hendaklah engkau mengucapkan : (سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ) subhanallah, walhamdulillah, walailaha illallah, wallahu akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah, dan Allah Maha Besar) sebanyak lima belas kali. Kemudian ruku, lalu egkau membacanya sepuluh kali sedang engkau dalam keadaan ruku. Lalu mengangkat kepalamu dari ruku seraya mengucapkannya sepuluh kali. Selanjutnya, turun bersujud, lalu membacanya sepuluh kali ketika dalam keadaan sujud. Setelah itu, mengangkat kepalamu dari sujud seraya mengucapkannya sepuluh kali. Kemudian bersujud lagi dan mengucapkannnya sepuluh kali. Selanjutnya, mengangkat kepalamu seraya mengucapkannya sepuluh kali. Demikian itulah tujuh puluh lima kali setiap rakaat. Dan engkau melakukan hal tersebut pada empat raka’at, jika engkau mampu mengerjakannya setiap hari satu kali, maka kerjakanlah. Dan jika engkau tidak bisa mengerjakannya setiap hari maka kerjakanlah setiap jum’at satu kali. Dan jika tidak bisa, maka kerjakanlah sekali setiap bulan. Dan jika tidak bisa, maka kerjakanlah satu kali setiap tahun. Dan jika tidak bisa juga, maka kerjakanlah satu kali selama hidupmu” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. 1 Dapat saya katakan, berikut ini beberapa manfaat yang berkaitan dengan hadits shalat tasbih. Pertama : Khithab di dalam hadits ini ditujukan kepada Al-Abbas, tetapi hukumnya berlaku umum, bagi setiap orang muslim. Sebab, landasan dasar dalam khithab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umum dan tidak khusus. Kedua ; Sabda beliau di...

read more

Download Buku Panduan MUI – Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia

Posted by on 12:37 pm in Pilihan | 1 comment

Majelis Ulama Indonesia telah secara resmi mengeluarkan kesimpulannya tentang aliran sesat Syi’ah dalam sebuah buku berjudul Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia. Silakan download dan sebarluaskan untuk kepentingan kaum muslimin di Indonesia, semoga bermanfaat.     Download Download Buku Panduan MUI – Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia (238)   sumber: metafisis...

read more

Download MP3 “Syiah menikam Ahlul Bait”

Posted by on 1:00 pm in Informasi Kajian, Pilihan, Umum | 1 comment

Download MP3 “Syiah menikam Ahlul Bait”

Alhamdulillah telah terlaksana, safari dakwah: Tablig akbar “Syiah menikam Ahlul Bait” Ustadz Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag (Pimpinan Redaksi Majalah Al-Umm) Jum’at 21 juni 2013 16.00 wib Masjid NurusSUnnah jl.Bulusan Utara Raya Rt5/3 Kelurahan Bulusan Kecamatan Tembalang Semarang www.nurussunnah.com fb: nurussunnah radioFM semarang twitter: nurussunnahFM Download MP3 kajian : syiah menikah ahlu bait - agus hasan bashori...

read more