Setelah Ibnul Qoyyim menyebutkan sifat-sifat wanita dunia yang penuh dengan kekurangan, maka beliaupun mulai menyebutkan sifat-sifat bidadari. Beliau berkata :
[arabic-font] فَاسْمَعْ صِفَاتِ عَرَائِسِ الْجَنَّاتِ ثُمَّ اخْـ … ـتَرْ لِنَفْسِكَ يَا أَخَا الْعِرْفَانِ[/arabic-font]

Dengarlah sifat-sifat para para mempelai wanita di surga, lalu pilihlah untuk dirimu wahai saudaraku (apakah engkau memilih wanita dunia yang telah lalu sifat-sifat mereka, ataukah engkau memilih para bidadari?-pen)

[arabic-font]حُوْرٌ حِسَانٌ قَدْ كَمُلْنَ خَلاَئِقًا … وَمَحَاسِنًا مِنْ أَجْمَلِ النِّسْوَانِ[/arabic-font]

Wanita-wanita yang cantik menawan dan jelita mata-mata mereka, sempurna tubuh mereka dan kemolekan mereka, wanita-wanita yang tercantik

[arabic-font]حَتَّى يَحَارَ الطَّرْفُ فِي الْحُسْنِ الَّذِي … قَدْ أُلْبِسَتْ فَالطَّرْفُ كَالْحَيْرَانِ[/arabic-font]

Sampai-sampai pandangan menjadi terheran-heran karena memandang keelokan yang telah dihiaskan pada mereka, maka jadilah pandangan terperangah

[arabic-font]وَيَقُوْلُ لَمَا أَنْ يُشَاهِدَ حُسْنَهَا … سُبْحَانَ مُعْطِي الْحُسْنِ وَالْإِحْسَانِ[/arabic-font]

Dan penghuni surga tatkala melihat keelokan sang bidadari maka ia seraya berkata, “Maha suci Allah yang telah menganugerahkan keelokan dan kebaikan”

[arabic-font]وَالطَّرْفُ يَشْرَبُ مِنْ كُؤُوْسِ جَمَالِهَا … فَتَرَاهُ مِثْلَ الشَّارِبِ النَّشْوَانِ[/arabic-font]

Maka pandangan mata meneguk dari gelas-gelas (yang dipenuhi dengan) kecantikan bidadari tersebut maka engkau akan melihatnya seperti peminum yang sedang mabuk kepayang

[arabic-font]كَمُلَتْ خَلاَئِقُهَا وَأُكْمِلَ حُسْنُهَا … كَالْبَدْرِ لَيْلَ السِّتِّ بَعْدَ ثَمَانِ[/arabic-font]

Sungguh sempurna tubuh sang bidadari dan telah disempurnakan pula keelokannya, maka jadilah seperti rembulan tatkala malam ke lima belas

[arabic-font]وَالشَّمْسُ تَجْرِي فِي مَحَاسِنِ وَجْهِهَا … وَاللَّيْلُ تَحْتَ ذَوَائِبِ الْأَغْصَانِ[/arabic-font]

Dan matahari bergulir dalam keindahan rupa wajahnya, dan malam juga bergulir di bawah ikatan-ikatan kepang rambutnya

[arabic-font]فَتَرَاهُ يَعْجَبُ وَهُوَ مَوْضِعُ ذَاكَ مِنْ … لَيْلٍ وَشَمْسٍ كَيْفَ يَجْتَمِعَانِ[/arabic-font]

Maka engkau akan melihatnya terkagum-kagum, yaitu pada kondisi demikian kok bisa malam dan matahari tergabungkan

[arabic-font]فَيَقُوْلُ سُبْحَانَ الَّذِي ذَا صُنْعُهُ … سُبْحَانَ مُتْقِنِ صُنْعَةِ الْإِنْسَانِ[/arabic-font]

Maka iapun berkata, “Maha suci Allah yang demikian indah ciptaannya, maha suci Allah yang menyempurnakan penciptaan sang bidadari”

[arabic-font]لاَ الَّيْلُ يُدْرِكُ شَمْسَهَا فَتَغِيْبُ عِنْـ … ـدَ مَجِيْئِهِ حَتَّى الصَّبَاحِ الثَّانِي[/arabic-font]

Malam tidaklah menemui mataharinya sehingga matahari tidak tenggelam tatkala tiba malam hari hingga esok pagi

[arabic-font]وَالشَّمْسُ لاَ تَأْتِي بِطَرْدِ اللَّيْلِ بَلْ … يَتَصَاحَبَانِ كِلاَهُمَا أَخْوَانِ[/arabic-font]

Dan matahari juga tidak mengusir malam, bahkan keduanya bersahabat dan bersaudara

[arabic-font]وَكِلاَهُمَا مِرْآةُ صَاحِبِهِ إِذَا … مَا شَاءَ يُبْصِرُ وَجْهَهُ يَرَيَانِ[/arabic-font]

Keduanya merupakan cahaya pemiliknya, jika ia hendak melihat wajahnya maka keduanya akan melihat

Penjelasan : Dalam hadits yang shahih Rasulullah bersabda :

[arabic-font]وَأَزْوَاجٌ وَوَصَائِفُ أَدْنَاهُنَّ حَوْرَاءُ عَيْنَاءُ عَلَيْهَا سَبْعُوْنَ حُلَّةً يُرَى مُخُ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ حُلَلِهَا، كَبِدُهَا مِرْآتُهُ وَكَبِدُهُ مِرْآتُهَا إِذَا أَعْرَضَ عَنْهَا إِعْرَاضَةً ازْدَادَتْ فِي عَيْنِهِ سَبْعِيْنَ ضِعْفًا عَمَّا كَانَتْ قَبْلَ ذَلِكَ، فَيَقُوْلُ لَهَا وَاللهِ لَقَدْ ازْدَدْتِ فِي عَيْنِي سَبْعِيْنَ ضِعْفًا وَتَقُوْلُ لَهُ وَأَنْتَ لَقَدِ ازْدَدْتَ فِي عَيْنِي سَبْعِيْنَ ضِعْفًا[/arabic-font]

“Dan para istri serta para pelayan, yang paling rendah diantara mereka adalah bidadari yang memakai 70 gaun, terlihat sum-sum betisnya di balik gaun-gaun tersebut. Hati sang bidadari merupakan cermin bagi sang lelaki dan hati sang lelaki juga menjadi cermin bagi sang bidadari. Jika sang lelaki (penghuni surga) berpaling dari sang bidadari (kemudian kembali kepada sang bidadari-pen) maka sang bidadari akan bertambah cantik 70 kali lipat dari sebelumnya. Maka sang lelakipun berkata, “Demi Allah dikau telah bertambah cantik 70 kali lipat di mataku”, maka sang bidadari juga berkata kepada sang lelaki, “Demikian juga engkau bertambah ketampananmu 70 kali lipat di mataku” (Hadits ini di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih at-Targhiib wa at-Tarhiib 3/227 no 3591)

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa wajah bidadari seperti cermin dan juga sebaliknya wajah sang lelaki juga seperti cermin maka haditsnya lemah. Diriwayatkan bahwasanya Nabi bersabda

[arabic-font]إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَّكِئُ فِي الْجَنَّةِ سَبْعِينَ سَنَةً قَبْلَ أَنْ يَتَحَوَّلَ ثُمَّ تَأْتِيهِ امْرَأَتُهُ فَتَضْرِبُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ فَيَنْظُرُ وَجْهَهُ فِي خَدِّهَا أَصْفَى مِنْ الْمِرْآةِ[/arabic-font]

“Sesungguhnya seorang lelaki bertelekan di surga selama 70 tahun sebelum ia berpindah, kemudian datanglah kepadanya seorang wanita lalu menepuk pundak sang lelaki, mak sang lelakipun melihat wajahnya tercerminkan di pipi sang wanita, lebih bening daripada kaca” (HR Ahmad 18/243 no 11715 dan dinyatakan dho’iif oleh Al-Arnauuth dan Syaikh Al-Albani dalam Dho’iif at-Targhiib wa at-Tarhiib 2/250 no 2213)
[arabic-font] فَيَرَى مَحَاسِنَ وَجْهِهِ فِي وَجْهِهَا … وَتَرَى مَحَاسِنَهَا بِهِ بِعَيَانِ[/arabic-font]

Maka ia akan melihat ketampanan wajahnya di wajah sang bidadari, dan bidadari akan melihat kecantikannya pada sang lelaki dengan pandangan mata

[arabic-font]حُمْرُ الْخُدُوْدِ ثُغُوْرُهُنَّ لَآلِئُ … سُوْدُ الْعُيُوْنِ فَوَاتِرُ الْأَجْفَانِ[/arabic-font]

Sungguh putih (kemerah-merahan) pipi-pipi para bidadari, gigi-gigi mereka adalah untaian mutiara, lingkaran pupil mata yang sangat hitam dengan lobang mata yang tidak terlalu cekung

[arabic-font]وَالْبَرْقُ يَبْدُو حِيْنَ يَبْسِمُ ثَغْرُهَا … فَيُضِيْءُ سَقْفَ الْقَصْرِ بِالْجُدْرَانِ[/arabic-font]

Dan Nampak cahaya tatkala mulutnya tersenyum, maka menyinari langit-langit istana dan dinding-dindingnya

[arabic-font]وَلَقَدْ رَوَيْنَا أَنَّ بَرْقًا سَاطِعًا … يَبْدُو فَيَسْأَلُ عَنْهَ مَنْ بِجَنَانِ[/arabic-font]

Dan sungguh kami telah meriwayatkan bahwasanya ada sebuah cahaya yang terang muncul maka para penghuni surga bertanya-tanya tentang cahaya tersebut

[arabic-font]فَيُقَالُ هَذَا ضَوْءُ ثَغْرٍ ضَاحِكٍ … فِي الْجَنَّةِ الْعُلْيَا كَمَا تَرَيَانِ[/arabic-font]

Maka dikabarkan bahwasanya ini adalah cahaya yang keluar dari mulut seorang bidadari yang ada di surga yang tinggi sebagaimana yang engkau lihat

Penjelasan : Diriwayatkan bahwasanya Nabi bersabda

[arabic-font]سَطَعَ نُوْرٌ فِي الْجَنَّةِ ، فَرَفَعُوا رُؤُوْسَهُمْ ، فَإِذَا هُوَ مِنْ ثَغْرِ حَوْرَاءَ ضَحِكَتْ فِي وَجْهِ زَوْجِهَا[/arabic-font]

“Nampak sebuah cahaya di surga maka penduduk surgapun mengangkat kepala-kepala mereka, ternyata cahaya tersebut keluar dari tawa bidadari di hadapan suaminya” (Hadits ini dinilai maudhuu’/palsu oleh syaikh Al-Albani, lihat Ad-Dho’iifah 8/174 no 3699)