[arabic-font]للهِ لاَثِمُ ذَلِكَ الثَّغِرِ الَّذِي … فِي لَثْمِهِ إِدْرَاكُ كُلِّ أَمَانِ[/arabic-font]

Demi Allah (sungguh bahagia) orang yang mengecup mulut bidadari tersebut yang dalam kecupan tersebut ia akan merasakan penuh rasa tentram

[arabic-font]وَالْقَدُّ مِنْهَا كَالْقَضِيْبِ اللَّدُن فِي…حُسْنِ الْقِوَامِ كَأَوْسَطِ الْقُضْبَانِ[/arabic-font]

Dan perawakan tinggi tubuh sang bidadari seperti batang/dahan pohon yang semampai dengan ketinggian yang cantik sebagaimana batang pohon yang semampai (tidak tinggi dan tidak rendah-pen)

[arabic-font]فِي مَغْرِسٍ كَالْعَاجِ تَحْسَبُ أَنَّهُ …  عَالِي النَّقَا أَوْ وَاحِدُ الْكُثْبَانِ[/arabic-font]

Yang batang pohon yang semampai tersebut tertancap seperti gading (yang putih), engkau melihatnya tinggi bersih atau seperti sebuah tumpukan pasir putih

Penjelasan : Diumpamakan tubuh bidadari seperti batang/dahan pohon yang basah karena segarnya tubuh bidadari tersebut, dan dimisalkan tubuh bidadari seperti gading yang putih karena padat dan montok serta putihnya tubuh bidadari tersebut.

[arabic-font]لاَ الظَّهْرُ يَلْحَقُهَا وَلَيْسَ ثُدِيُّهَا … بِلَوَاحِقٍ لِلْبَطْنِ أَوْ بِدَوَانِ[/arabic-font]

Maka tidaklah bidadari itu pendek, dan tidaklah pula buah dadanya menempel pada perut atau menjulur ke bawah

[arabic-font]لَكِنَّهُنَّ كَوَاعِبُ وَنَوَاهِدُ … فَثُدِيُّهُنَّ كَأَلْطَفِ الرُّمَّانِ[/arabic-font]

Akan tetapi buah dada mereka bundar dan tegak… maka payudara mereka seperti buah delima yang paling halus
Penjelasan : Tentang buah dada bidadari maka Allah telah berfirman:

[arabic-font]وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا (٣٣)[/arabic-font]

“(Bagi penghuni surga para bidadari) yang buah dada mereka bulat melingkar serta remaja yang sebaya” 
(An-Naba’ : 33)

Ibnu Katsiir berkata:

[arabic-font]قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمَجَاهِدٌ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ: { كَوَاعِبَ } أَيْ: نَوَاهِدَ، يَعْنُوْنَ أَنَّ ثُدُيَّهُنَّ نَوَاهِدُ لَمْ يَتَدَلِّيْنَ لِأَنَّهُنَّ أَبْكَارٌ[/arabic-font]

“Ibnu Abbas, Mujahid, selain mereka berdua telah berkata “Kawaa’ib” artinya adalah yang tegak, maksud mereka adalah buah dada para bidadari tegak dan tidak terjulur ke bawah, karena mereka adalah gadis-gadis perawan” (Tafsiir Ibnu Katsiir 8/308)

Ar-Roozi berkata :

[arabic-font]كَوَاعِبُ جَمْعُ كَاعِبٍ وَهِيَ النَّوَاهِدُ الَّتِي تَكَعَّبَتْ ثُدِيُّهُنَّ وَتَفَلَّكَتْ[/arabic-font]

“Kawaa’ib (dalam bahasa Arab) adalah kata jamak dari kata mufrod Kaa’ib, dan maknanya adalah buah dada yang tegak yang membundar dan membulat” (Mafaatiih al-Ghoib 31/19)
[arabic-font] وَالْجَيَدُ ذُوْ طُوْلٍ وُحُسْنٍ فِي بَيَا … ضٍ وَاعْتِدَالٍ لَيْسَ ذَا نُكْرَانِ[/arabic-font]

Bidadari yang memiliki leher yang ttinggi dan cantik dalam putihnya kulitnya dengan penuh keseimbangan tanpa ada sifat yang diingkari

[arabic-font]يَشْكُو الْحُلِيُّ بِعَادَهُ فَلَهُ مَدَى الْـ … أَيَّامِ وَسْوَاسٌ مِنَ الْهِجْرَانِ[/arabic-font]

Hingga perhiasan (kalung) yang ada di dadanya mengeluhkan jauhnya ia dari leher sang bidadari (yang menunjukkan tingginya leher bidadari-pen), maka baginya sejauh hari-hari yang penuh dengan kegelisahan karena terpisah jauh dari leher sang bidadari

[arabic-font]وَالْمِعْصَمَانِ فَإِنْ تَشَأْ شَبِّهْهُمَا … بِسَبِيْكَتَيْنِ عَلَيْهِمَا كَفَّانِ[/arabic-font]

Dan kedua pergelangan tangan sang bidadari –jika engkau suka- maka serupakanlah dengan dua batang emas yang dua telapak tangan berada di atas dua batang emas tersebut

[arabic-font]كَالزُّبْدِ لِيْنًا فِي نُعُوْمَةِ مَلْمَسٍ … أَصْدَافُ دُرٍّ دُوِّرَتْ بَوَزَانِ[/arabic-font]

Lembutnya sentuhan bidadari seperti lembutnya yogurt, sungguh kedua pergelangan bidadari seperti mutiara-mutiara yang dijadikan bulat dengan penuh keseimbangan

[arabic-font]وَالصَّدْرُ مَتَّسِعٌ عَلَى بَطْنٍ لَهَا … حُفَّتْ بِهِ خِصْرَانِ ذاتُ ثَمَانِ[/arabic-font]

Dan dada bidadari melebar di atas perutnya…. Dilingkupi oleh dua pinggangnya yang bodinya membentuk delepan lekukan

[arabic-font]وَعَلَيْهَا أَحْسَنُ سُرَّةٍ هِيَ مَجْمَعُ الْـ … ـخِصْرَيْنِ قَدْ غَارَتْ مِنَ الأَعْكَانِ[/arabic-font]

Dan di atas pinggangnya ada pusar yang sang sangat indah, yang pusar tersebut adalah tempat bertemunya dua pinggang, dan pusar tersebut telah berbentuk cekung ke dalam karena dikelilingi perut

[arabic-font]حَقٌّ مِنَ الْعَاجِ اسْتَدَارَ وَحَوْلَهُ … حَبَّاتُ مِسْكٍ وَجَلَّ ذُوْ الْإِتْقَانِ[/arabic-font]

Sungguh cekungnya pusar tersebut sangat mirip dengan cekung dan bulat (serta putihnya) gading, dan disekelilingnya dihiasi dengan butiran-butiran kesturi, dan sungguh maha tinggi Allah Yang maha sempurna penciptaanNya

[arabic-font]وَإِذَا انْحَدَرْتَ رَأَيْتَ أمراً هَائِلاً… مَا لِلصِّفَاتِ عَلَيْهِ مِنْ سُلْطَانِ[/arabic-font]

Jika engkau memandang apa yang ada di bawah pusar sang bidadari maka engkau akan melihat perkara yang menakjubkan (tentang kemaluan sang bidadari-pen), tidak ada kemampuan untuk bisa menjelaskan sifat-sifat perkara tersebut.

[arabic-font]لاَ الْحَيْضُ يَغْشَاهُ وَلاَ بَوْلٌ وَلاَ … شَيْءٌ مِنَ الآفَاتِ فِي النِّسْوَانِ[/arabic-font]

Tidak ada darah haid yang menutupinya dan tidak juga ada air kencing, serta tidak ada sesuatupun dari hal-hal buruk yang terdapat pada wanita-wanita dunia

Penjelasan : Allah berfirman tentang sucinya bidadari :

[arabic-font]وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ[/arabic-font]

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”
 (QS Al-Baqoroh :25)