Belum Baligh, Sebaiknya Tidak Full Pondok Pesantren

Belum Baligh, Sebaiknya Tidak Full Pondok Pesantren

Bagi para orang tua, mohon dipertimbangkan jika memasukkan anak yang belum usia baligh ke full pondok pesantren misalnya usia anak di sekolah dasar yang umumnya berumur 6-12 tahun. Sebaiknya anak yang masih kecil dan belum baligh TIDAK masuk full pondok pesantren

Bagi para orang tua, mohon dipertimbangkan jika memasukkan anak yang belum usia baligh ke full pondok pesantren misalnya usia anak di sekolah dasar yang umumnya berumur 6-12 tahun. Sebaiknya anak yang masih kecil dan belum baligh TIDAK masuk full pondok pesantren. Artinya terpisah dari orang tuanya terutama ibunya, hanya bertemu ketika liburan akhir semester. Perpisahan ini cukup lama. Dari sisi psikologi anak, juga kurang bijak anak yang masih kecil dan belum baligh terpisah dari orang tuanya.

Anak yang belum baligh sangat butuh perhatian lebih dan kasih sayang. Tentu berbeda dengan kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh para pengajar ustadz dan ustadzah di pondok pesantren. Masa kecil adalah masa berbahagia di mana orang tua perlu sekali membina interaksi dan kenangan yang menyenangkan dengan sang anak agar dekat dengan mereka, sehingga mudah mendidik, membimbing dan memberi nasehat. Salah satu solusi, anak bisa dimasukkan ke sekolah atau pondok pesantren yang tidak program full di pondok pesantren. Misalnya pagi sampai siang masuk sekolah, selebihnya berada dalam pendidikan dan kasih sayang orang tua.

Akan tetapi jika memang ada mashlahat dan kebaikan yang lebih banyak dengan berdasarkan musyawarah dan pertimbangkan yang matang, pada keadaan tertentu bisa saja anak yang belum baligh dimasukan full pondok pesantren, tetapi perlu diingat hukum asalnya anak-anak yang belum baligh sebaiknya bersama kasih sayang orang tua. Demikian juga semisal anak laki-laki yang sudah akan masuk Usia SMP/SLTP mungkin akan menjelang usia baligh (tetapi belum baligh), bisa dipertimbangkan masuk full pondok pesantren.

Mohon diperhatikan beberapa hadits-hadits berikut yang memberikan faidah bahwa ibu (orang tua) tidak diperkenankan berpisah dengan anaknya terutama yang masih belum baligh. Hal ini menunjukkan pentingnya perhatian kasih sayang dan kedekatan orang tua terutama ibu pada anak yang masih belum baligh.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” [1]

Batas usia tidak boleh dipisahkan adalah sampai usia baligh, sebagaimana dalam hadits berikut. Sahabat Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu berkata,

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يفرق بين الأم وولدها . فقيل : يا رسول الله إلى متى ؟ قال :  حتى يبلغ الغلام ، وتحيض الجارية

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, ‘Wahai Rasulullah, sampai kapan?’ Beliau menjawab, ‘Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haidh bila perempuan.’”[2]

Besarnya Perhatian dan Kasih Sayang Ibu

Hak pengasuhan anak selama masih belum tamyiz (usia tujuh tahun umumnya) adalah utamanya di tangan istri selama istri tidak menikah lagi. Ingat juga, hak pengasuhan anak (Hadhanah) perlu diputuskan dengan banyak pertimbangan dari hakim/qadhi. Pembahasan ini juga terdapat faidah lain yaitu pentingnya perhatian, kasih sayang dan kedekatan orang tua terutama ibu pada anak yang masih belum baligh.

Ibnul Qayyim menjelaskan,

: ﻓﺈﻧﻪ ﺟﻌﻞ ـ ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ـ ﺍﻷﻡ ﺃﺣﻖ ﺑﺎﻟﻮﻟﺪ ﻣﻦ ﺍﻷﺏ، ﻣﻊ ﻗﺮﺏ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﻭﺇﻣﻜﺎﻥ ﺍﻟﻠﻘﺎﺀ ﻛﻞ ﻭﻗﺖ ﻟﻮ ﻗﻀﻲ ﺑﻪ ﻟﻸﺏ، ﻭﻗﻀﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻮﻟﻪ ﻭﺍﻟﺪﺓ ﻋﻠﻰ ﻭﻟﺪﻫﺎ، ﻭﺃﺧﺒﺮ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺪﺓ ﻭﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﺮﻕ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﺣﺒﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ، ﻭﻣﻨﻊ ﺃﻥ ﺗﺒﺎﻉ ﺍﻷﻡ ﺩﻭﻥ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ

“Pembuat syariat (Allah) menjadikan ibu lebih berhak mengasuh anak dari bapak karena dekatnya dan memungkinkan bertemu setiap waktu. Jika qadhi memutuskan hak asuh pada bapaknya, tidak boleh melarang ia bertemu dengan ibunya.”[3]

Ini juga sesuai dengan hadits mengenai ibu lebih berhak mengasuh anak yang masih dari sang bapak. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya ada seorang wanita pernah mendatangi Rasulullah mengadukan masalahnya. Wanita itu berkata,

ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﺑْﻨِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻄْﻨِﻲ ﻟَﻪُ ﻭِﻋَﺎﺀً ﻭَﺛَﺪْﻳِﻲ ﻟَﻪُ ﺳِﻘَﺎﺀً ﻭَﺣِﺠْﺮِﻱ ﻟَﻪُ ﺣِﻮَﺍﺀً ﻭَﺇِﻥَّ ﺃَﺑَﺎﻩُ ﻃَﻠَّﻘَﻨِﻲ ﻭَﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋَﻪُ ﻣِﻨِّﻲ

“Wahai Rasulullah. Anakku ini dahulu, akulah yang mengandungnya. Akulah yang menyusui dan memangkunya. Dan sesungguhnya ayahnya telah menceraikan aku dan ingin mengambilnya dariku.”

Mendengar pengaduan wanita itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,

ﺃَﻧْﺖِ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﺗَﻨْﻜِﺤِﻲ

“Engkau lebih berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah.” [4]

Terdapat hadits larangan memisahkan anak hewan yaitu burung dari induknya. Silahkan direnungkan, untuk hewan saja, ada larangan jangan sampai anak terpisah dari induknya, apalagi manusia. Ini juga renungkan bagi, ibu yang terlalu sibuk mengejar karir sehingga terpisah dan sangat jarang berjumpa dengan anak-anak yang wajib ia asuh.

Dari Abdullah bin Mas’ud beliau berkata,

ﻛﻨَّﺎ ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺳﻔﺮ، ﻓﺎﻧﻄﻠﻖ ﻟﺤﺎﺟﺘﻪ ﻓﺮﺃﻳﻨﺎ ﺣُﻤﺮﺓ ﻣﻌﻬﺎ ﻓﺮﺧﺎﻥ، ﻓﺄﺧﺬﻧﺎ ﻓﺮﺧﻴﻬﺎ، ﻓﺠﺎﺀﺕ ﺍﻟﺤُﻤﺮﺓُ ﻓﺠﻌﻠﺖ ﺗﻔﺮِﺵ، ﻓﺠﺎﺀ ﺍﻟﻨَّﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ‏ﻣﻦ ﻓﺠﻊ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ؟ ﺭﺩُّﻭﺍ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﺇﻟﻴﻬﺎ

“Suatu ketika kami bersama dengan Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Ketika Nabi pergi untuk buang hajat kami melihat seekor burung bersama dua anaknya yang masih kecil. Kami ambil dua anak burung tersebut. Tak lama setelah itu si induk burung datang mencari anaknya. Ketika Nabi datang dan melihat hal tersebut beliau bersabda, ‘Siapa yang membuat induk burung ini mencemaskan anaknya? Kembalikan anaknya kepada induknya!’” [5]

Demikian semoga bermanfaat@Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] HR. Tirmidzi, hasan gharib
[2] HR. Al Hakim, Shahih
[3] Lihat Zaadul Ma’ad
[4] HR Ahmad & Abu Dawud, Hasan
[5] HR. Abu Daud, Shahih

Sumber: https://muslim.or.id/30959-belum-baligh-sebaiknya-tidak-full-pondok-pesantren.html

​SURGA DUNIA dalam MENDIDIK ANAK

​SURGA DUNIA dalam MENDIDIK ANAK

Sebenarnya …
Mendidik anak itu menjadikan hati tenang

Mendidik anak itu menyebabkan kebahagiaan

Karena mendidik anak itu bagian dari kenikmatan SURGA DUNIA
Tapi.., kenyataannya seringkali…

Masih panik dalam mendidik anak.

Masih marah-marah dalam mendidik anak.

Masih menderita karena sebab mendidik anak.

Masih membuat anak tertekan dalam mendidiknya.
Itu bisa jadi CARA MENDIDIKNYA BELUM BENAR, karena mendidik itu asalnya mudah, tenang, menyenangkan, membuat  bahagia, dan terasa nikmat.
Mendidik itu perintah Agama.

Melakukan perintah Agama itu ibadah

Sedangkan ibadah yang ikhlas dan benar (sesuai petunjuk Allah dan Rasul Nya) akan mendatangkan kebahagiaan.

Kebahagiaan  sejati didunia ini dinamakan SURGA DUNIA

Masuk SURGA DUNIA, menyebabkan seseorang akan masuk SURGA di AKHERAT. 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
إنَّ فِيْ الدُّنْيَا جَنَّةً, مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَنْ يَدْخُلَ جَنَّةَ الآخِرَةِ.
“Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa yang tidak memasuki surga dunia ini, maka dia tidak akan masuk surga di akherat”
SURGA DUNIA itu adalah keimanan kepada Allah ta’ala, diantaranya meyakini bahwa:

– Mendidik anak adalah perintah Allah ta’ala (QS. At Tahrim: 6)

– Membenarkan petunjuk cara mendidik yang telah Rasulullah ajarkan .
Sehingga keimanan itu menyebabkan keikhlasan kepada Allah ta’ala, dan pada akhirnya mendidik anak mengikuti petunjuk dari Nya dan Rasul Nya.
Inilah kenikmatan mendidik …

Inilah kenikmatan ibadah …

Inilah ketenangan sejati …

Inilah kebahagiaan sejati …

Inilah SURGA DUNIA dalam mendidik anak-anak kita.
Dan semoga Allah Ta’ala kelak memasukkan kita dan keluarga kita ke SURGA Nya di AKHERAT.

Aamiin …
Ditulis oleh : Kholik

Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang

​PEMBEBANAN dan PEMIKUL BEBAN

​PEMBEBANAN dan PEMIKUL BEBAN

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MEMBACA, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MEMBACA.
Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MENULIS, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MENULIS.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak BERHITUNG, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA BERHITUNG.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MENGHAFAL, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MENGHAFAL.
Padahal membaca, menulis, berhitung, menghafal dan sejenisnya adalah BEBAN BERAT jika TIDAK ADA rasa CINTA untuk melakukannya.
Kalau cinta TIDAK tumbuh, beban seRINGAN apapun akan terasa SANGAT BERAT.

Kalau cinta TELAH tumbuh, beban seBERAT apapun akan terasa SANGAT RINGAN.
Tumbuhkan cinta anak kepada bidang yang nantinya akan dibebankan kepadanya. Kalau cinta TIDAK berkunjung TUMBUH-TUMBUH, bisa jadi anak tidak berbakat di bidang tersebut, maka carilah bidang lain yang anak senangi.
Jangan paksakan kepada anak bidang yang tidak dia senangi. Tetapi gali dan temukan bidang apa yang disenanginya. Lalu pupuk dan tumbuhkan kecintaannya, setelah cintanya tumbuh maka kemudian dengan sendirinya dia akan MEMINTA diberi beban.
Gali bakat anak dengan memperbanyak aktifitas, lalu perhatikan aktifitasnya dengan 4E: Enjoy, Easy, Excellent, Earn

✅Enjoy       : Senang melakukannya

✅Easy        : Mudah melakukannya

✅Excellent : Bagus hasilnya

✅Earn         : Bermanfaat hasilnya

Jika 4E terpenuhi pada aktifitas tertentu maka itulah bakatnya.

Kalau sudah bakat, CINTA akan tumbuh dengan sendirinya, BEBAN akan diminta dengan sendirinya, dan hasilnya akan BAGUS dan BERMANFAAT.

Inilah BAKAT/KARAKTER KINERJA
Di sisi lain …
Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak SHOLAT, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA SHOLAT.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak PUASA, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA PUASA.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak  MENGHAFAL AL QUR’AN, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA AL QUR’AN.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak SYARI’AT, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA kepada PEMBERI SYARI’AT, yaitu Allah Ta’ala.
Hal ini berarti mengajarkan TAKLIF (pembebanan Syari’at) tetapi tidak menyiapkan anak menjadi MUKALLAF (pemikul Syari’at)
Sholat dan syari’at lainnya adalah beban . Tidak ada anak yang suka sholat, karena sholat adalah beban, kecuali telah tumbuh kecintaan kepada yang memerintah sholat yaitu Allah ta’ala.
Kalau cinta kepada Allah telah tumbuh, maka beban Syari’at seberat apapun akan terasa ringan dilakukan, bahkan sampai berjihadpun akan ringan dilakukan. 

CINTA kepada ALLAH harus tumbuh sebelum memikul beban SYARI’AT .

Kalau cinta Allah TIDAK TUMBUH-TUMBUH, maka harus ditumbuhkan, seperti dengan keteladanan, dibacakan sejarah para Nabi dan Rasul, sahabat Nabi, orang-orang sholeh, serta dibimbing untuk belajar bersama alam agar tumbuh imaji positif terhadap Allah, belajar, dan alam.
Tidak ada kata berbakat atau tidak berbakat pada beban syari’at, semua anak harus CINTA kepada ALLAH dan RasulNya, semua anak harus mampu memikul beban Syari’at nantinya saat mereka sudah BALIGH.

Inilah AKHLAQ/Karakter Moral
Cinta kepada Allah ditumbuhkan pada usia 0-7 tahun. Tidak ada pembebanan Syari’at pada usia ini, adanya hanyalah penumbuhan rasa cinta kepada Allah yaitu penumbuhan keimanan kepada Allah ta’ala, cinta belajar, dan cinta kepada alam. 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع (أبو داود والحاكم)

“Perintahkan anakmu sholat pada saat umur 7 tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau sholat pada saat umur 10 tahun, dan pisahkan tempat tidurnya diantara mereka” (HR: Abu Dawud)
Berdasar hadits tersebut, seorang anak baru diajarkan sholat pada umur 7 tahun, bukan sebelumnya, boleh dipukul pada umur 10 tahun, dan mulai dibebani kewajiban sholat setelah Baligh.

Jadi, Bukan berarti pegajaran lebih dini lebih baik, tetapi harus sesuai dengan perkembangan anak.
Ditulis oleh : Kholik

Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang

Pendidikan karakter berbasis Akhlaq, belajar dan Bakat

Beranda

PEMAKSAAN CITA-CITA

PEMAKSAAN CITA-CITA

Pengalaman mendampingi pemetakan bakat siswa SMK, banyak hal yang menjadi bahan renungan, diantaranya banyak siswa dalam menentukan cita-citanya karena “pesanan” dari orang tuanya.
Padahal sebenarnya cita-cita pesanan tersebut tidak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Dengan dalih bakti pada orang tua, akhirnya mereka harus terpaksa rela menempuh jalan  yang bukan untuknya.
“Sebenarnya saya ingin kuliah di jurusan ini…, tapi orang tua ingin saya kuliah di jurusan itu”. Ungkapan siswa yang lain dengan wajah setengah hati, “ saya ingin bekerja sebagai ini…, tetapi orangtua ingin saya bekerja sebagai itu”. 

Bukan hanya di SMK, di Pondok Pesantren pun muncul ungkapan senada dari seorang santri,  “ sebenarnya saya kelak ingin jadi ini…, tetapi orang tua ingin saya jadi seorang ustadz…”
Data yang mengejutkan…!, 90% dari siswa yang dipetakan ingin melanjutkan jenjang berikutnya yang tidak sama dengan jurusan yang sekarang dia tekuni.

Salah jurusan …

Ya, mereka salah jalan …
Saya yakin, jika di Pondok Pesantren di lakukan survey, banyak dari santri yang salah jurusan juga. Tidak semua santri ingin jadi ustadz. Banyak diantara mereka yang ingin berperan dalam masyarakat pada bidang yang bukan bidang diniyyah (Agama).

Betul, setiap orang wajib hukumnya belajar Agama …

Tetapi tidak semua orang berbakat dalam bidang Agama.
Ada yang salah…?

Jelas ada yang salah…!

Karena ini adalah pemaksaan cita-cita…!

Tanpa disadari orang tua telah menyesatkan anaknya, karena seorang anak dipaksa menempuh yang bukan jalannya.

Akhirnya banyak anak yang menjadi “korban penyesatan” oleh orang tuanya.

Tanpa disadari …

Ya, ini terjadi tanpa disadari oleh orang tuanya. Karena tidak ada orang tua yang ingin menyesatkan anak-anaknya.

Ini terjadi karena orang tua belum mengetahui jalan khusus yang telah Allah ta’ala ciptakan bagi anaknya.
Imam Ibnul Qoyyim mengatakan: “Jika anak dipaksakan untuk menekuni bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan berhasil di bidang itu, dan akan luput potensi yang ada pada dirinya”. Lanjut beliau ringkasnya, “ Jika anak berbakat di bidang Agama maka itulah kesempatan baginya untuk mengukir ilmu Agama pada lubuk hatinya. Namun jika anak cenderung kepada ilmu keduniaan (seperti pertanian, perdagangan, industri dan lainnya) maka tidak mengapa diarahkan untuk menekuni bidang tersebut selama diperbolehkan oleh syari’at. Setiap orang akan dimudahkan untuk berperan pada bidang apa dia diciptakan”
Mari kita gali potensi anak-anak kita …

Kita temukan bakat anak-anak kita … 

Kita temukan misi hidup anak-anak kita …

Kita temukan jalan khusus bagi anak-anak kita …

Karena dengan membimbing anak kita untuk berjalan pada jalan bakatnya, maka akan menjadi lebih hebat untuk berperan bagi peradaban.
Allah ta’ala berfirman : “ Katakanlah wahai Muhammad, setiap orang akan bekerja sesuai bakatnya masing-masing, maka Tuhanmulah yang lebih tahu siapa yang paling benar jalannya” (QS. Al Isra’ :84)
Bakat adalah karakter kinerja, maka agar kinerja sesuai dengan yang diharapkan, maka sangat penting ditumbuhkan juga karakter moralnya, yaitu Aqidah, Ibadah, Adab, dan Akhlaq.

Sehingga terpenuhilah amanah yang dipikulkan pada setiap manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah ta’ala dan menjadi khalifah di muka bumi ini.
Semoga Allah ta’ala selalu membimbing kita dan generasi masa depan bangsa kita. 
Kholik

Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang

PABRIK MESIN itu bernama SEKOLAH

PABRIK MESIN itu bernama SEKOLAH

Pabrik mesin memproduksi alat-alat/mesin-mesin untuk fungsi tertentu.

Sekolah mendidik manusia untuk menjadi kompeten pada bidang tertentu.

Setelah mesin keluar dari pabrik, lalu digunakan oleh orang untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.
Setelah siswa lulus sekolah, lalu dipekerjakan oleh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.

Mesin digunakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.
Tamatan sekolah dipekerjakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.

Pabrik menggunakan prosedur operasional untuk membuat mesin menjadi berfungsi.
Sekolah menggunakan kurikulum untuk membuat siswa menjadi kompeten.

Sekolah sama dengan pabrik?
Hanya beda istilah dan obyek yang dikerjakan..!
Tergantung bagaimana Anda menilainya.

Apa yang harusnya beda..?

Manusia bisa berempati, mesin tidak bisa.
Manusia bisa memotivasi, mesin tidak bisa.
Manusia bisa menyakini, mesin tidak bisa.
Manusia bisa Ikhlas, mesin tidak bisa.

Mesin diprogram oleh manusia yang terbatas pengetahuannya, tetapi manusia di program oleh Yang Tak Terbatas PengetahuanNya.
Jelas…, manusia tidak sama dengan mesin
Jelas juga…, seharusnya sekolah tidak sama dengan pabrik.

Seharusnya sekolah tidak berat sebelah terlalu terkonsentrasi pada pendidikan HARD SKILL yang bisa tergantikan oleh mesin.
Namun …juga seharusnya terkonsentrasi pada pendidikan SOFT SKILL yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
Soft skill adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, dirinya, dan kepada Allah ta’ala.

Setiap orang hendaknya memiliki Hard skill dan soft skill dalam mengarungi kehidupannya. Sehingga manusia dapat melakukan apa yang bisa dilakukan mesin, tetapi tidak semua yang bisa dilakukan manusia dapat dilakukan oleh mesin.

Kholik
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang