memasang Widget Nurussunnah FM

memasang Widget Nurussunnah FM

Alhamdulillah kami bisa menyediakan widget player streaming bagi para pendengar yang ingin menaruh widget ini di web, blog atau forum yang anda kelola. Untuk memasang widget ini cukup mudah, yaitu dengan mencantumkan 2 baris kode dibawah ini di bagian web yang ingin anda pasang player streaming Nurussunnah di website.

Untuk memasang Widget ini ke blog, website atau forum yang kamu kelola dengan mencantumkan/paste kode dibawah ini dibagian web yang ingin kamu pasang Streaming Nurussunnah.
Radio Islam di Android

Radio Islam di Android

Radio dakwah islam Ahlus Sunnah Wal jamaah se-Indonesia sekarang sudah dapat anda nikmati di HP maupun Gadget yang anda miliki dirumah, dengan pemakaian yang cukup mudah memberikan manfaat untuk anda mengakses kajian maupun sumber ilmu yang bermanfaat dari radio-radio islam di seluruh tanah air ini (yang menggunakan siaran streaming).

lakukan pemasangan APK ini di gadget anda dari alamat “sumber” yang sudah kami sediakan dibawah.

semoga Alloh memberikan keberkahan kepada pihak yang sudah memberikan usahanya dalam memberikan kemudahan ini.

 

              

 

Pemutar radio-radio streaming Internet dakwah Islam yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, dilengkapi dengan fitur rekam (.mp3).

Radio Rodja-Bogor, Radio Muslim-Yogyakarta, Radio Al Iman-Surabaya, Radio Hangfm-Batam, Radio Assunnah-Cirebon, Radio Hidayah-Pekan Baru Riau,Radio Suara Quran-Solo, Radio Kita-Madiun,Radio BASS-Salatiga,Radio Nurussunnah-Semarang,Radio Arroyyan-Gresik,Streaming Kajian Medan, Miraath,Radio Suara Qur’an Lombok, Radio Suara Ibnul Qoyyim, Radio Mu’adz Kendari, Radio Rodja Bandung, Islamic Centre Bin Baz Yogyakarta, mp3 Quran, Darel Iman, An Najiyah, Idzaatul Khoir, Al Hikmah, Gema Madinah, Radio Muslim Jakarta

 

keteranga/cara menjalankanya :
(*)Hold (tekan+tahan) salah satu icon stasiun untuk memulai koneksi.
(*)Gunakan akses minimal 3G atau Wi-Fi untuk kualitas streaming yang baik.
(*)Tekan tombol “home” agar program ini tetap berjalan tanpa exit.

tag:kajian,ilmu,sunnah,tauhid,pendidikan,Indonesia

Instal : sumber

LPJ Panitia Qurban Nurus Sunnah

LPJ Panitia Qurban Nurus Sunnah

Bismillah,

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kemudahan dalam pelaksanaan ibadah Idul Adha yang meliputi pelaksanaan sholat kemudian dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban serta pendistribusian daging qurban sehingga berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Namun demikian, masih tetap terdapat kekurangan disana-sini yang menjadi bahan evaluasi dan InsyaAllah diperbaiki dalam pelaksanaan kegiatan Idul Adha di tahun mendatang.

berikut kami kirimkan LPJ Qurban dari Panitia=

  • [download id=”114″]- klik untuk download (pdf)

Klik gambar untuk memperbesar:
[fancybox url=”https://nurussunnah.com/wp-content/uploads/2012/11/kmbing1.jpg”]

[/fancybox]

[fancybox url=”https://nurussunnah.com/wp-content/uploads/2012/11/kmbing2.jpg”]

[/fancybox]
Demikian laporan pertanggungjawaban ini kami susun, saran dan kritik yang membangun sangat kami nantikan. Semoga dengan laporan pertanggungjawaban ini dapat dijadikan bahan evaluasi dan acuan kegiatan di masa-masa mendatang serta kegiatan-kegiatan lain yang semisalnya. Semoga Allah memberkahi dan merahmati kegiatan kita.

ttd
Ketua Panitia ‘Iedul Adha 1433H
Yayasan Nurussunnah Semarang
Ibnu Sulaiman
Ringkasan Laporan Keuangan Dauroh dan Ramadhan Nurussunnah 1433 H / 2012 M

Ringkasan Laporan Keuangan Dauroh dan Ramadhan Nurussunnah 1433 H / 2012 M

 

Pemasukan Pengeluaran
No Tanggal Uraian Nominal No Uraian Jumlah
1
Saldo tahun lalu Rp1.125.000 1 Publikasi Rp1.035.200
2 29/06/2012 infaq Bapak Rusito Rp1.000.000 2 Operasional Rp6.766.100
3 09/07/2012 infaq Bapak Shidiq Rp500.000 3 Buka Puasa Rp22.055.400


infaq Bapak Nanang Rp200.000 4 Sahur Rp7.937.100
4 10/07/2012 Infaq Hamba Allah Rp1.500.000 5 Transport pembicara Rp2.100.000


Infaq Bapak Aziz Rp100.000 6 Lain lain Rp300.000
5 13/07/2012 infaq buka puasa Bapak Bourham Rp300.000
total pengeluaran Rp40.193.800


Infaq Bapak Abdul Kholiq Rp200.000




Infaq Bapak Heri Rp400.000




Infaq buka puasa Abu Abdillah Rp200.000




Infaq Hamba Allah lewat Bapak Yusuf Rp1.000.000




Infaq Bapak Jawawi Rp50.000




Infaq Bapak Afikul Walid jakarta Rp5.000.000




Infaq Bapak Adit Rp400.000




Infaq Bapak Aziz Rp200.000


6 14/07/2012 Infaq buka puasa Bapak Agus Rp100.000




Infaq Bapak Wahyudi Rp100.000




Infaq dari kotak infaq dauroh Rp124.500




Infaq ramadhan Hamba Allah lewat Bapak Yusuf Rp2.000.000




Infaq dari kotak infaq dauroh Rp50.000


7 15/07/2012 Infaq Bapak Adreng Rp200.000




Infaq Bapak Sudalma Rp360.000




Infaq Hamba Allah TPA lewat Mas Yaqin Rp100.000




Infaq Hamba Allah TPA lewat Mas Yaqin Rp500.000




Infaq Hamba Allah TPA lewat Mas Yaqin Rp100.000




Infaq Hamba Allah TPA lewat Mas Yaqin Rp500.000




Infaq dari kotak infaq dauroh Rp315.000


8 20/07/2012 Infaq dari PLN Rp500.000




Infaq Hamba Allah lewat Mas Yaqin Rp300.000




Infaq Hamba Allah lewat Mas Ibnu Rp1.000.000




Infaq Hamba Allah lewat Mas Ibnu Rp150.000




Infaq Hamba Allah lewat Mas Ibnu Rp300.000




Infaq Bapak Cholid TPA lewat Mas Ibnu Rp100.000


9 21/07/2012 Infaq buka puasa dari Bapak Romy Rp1.500.000




Infaq ramadhan Bapak Antariksa Rp5.000.000


10 22/07/2012 Infaq dari kotak infaq dauroh Rp12.000




Infaq Bapak Agung Politeknik Rp200.000




Infaq Bapak Hasan Mustofa Rp100.000




Infaq Hamba Allah lewat Mas Ibnu Rp750.000




Infaq Hamba Allah lewat Mas Ibnu Rp300.000




Infaq Bapak Heri Rp400.000


11 23/07/2012 Infaq buka puasa Khalifah Rp1.000.000




Infaq buka puasa istri Bapak Burhan Rp200.000


12 24/07/2012 Infaq dari kotak infaq dauroh Rp82.500


13 25/07/2012 Infaq dari kotak infaq dauroh Rp1.000.000




Infaq uang kurma dari Abu Ayyub Rp450.000


14 27/07/2012 Infaq buka puasa Bapak Romy Rp1.500.000


15 01/08/2012 Infaq buka puasa dari Abdullah temen Mubarok Rp1.000.000


16 04/08/2012 Infaq romadhon Bapak Imron Syuaebi Rp500.000




Infaq romadhon Hamba Allah via Pos Rp150.000


17 06/08/2012 Infaq buka puasa Hamba Allah Rp200.000




Infaq buka puasa Pak Romy Rp1.500.000


18 07/08/2012 Infaq buka puasa Hamba Allah temannya Mubarok Rp200.000


19 08/08/2012 Infaq buka puasa El Data Rp5.000.000


20 10/08/2012 Infaq romadhon Tri Bagus Rp300.000




Infaq romadhon temannya Ilham Rp50.000


21 16/08/2012 Infaq romadhon mantu Pak Burhan Rp300.000




Infaq romadhon lewat Pak Yusuf Rp200.000




total pemasukan Rp40.869.000




saldo Rp675.200







jazakumullahu khairan bagi muhsinin yang telah berinfaq untuk kegiatan dauroh dan ramadhan di masjid nurussunnah, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah azza wa jalla:
[arabic-font] مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا[/arabic-font]
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”
HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih

Download “Islam Mengecam Terorisme” (MP3 + Video)

Download “Islam Mengecam Terorisme” (MP3 + Video)

Ibnul Qayyim mengatakan: “Godaan syubhat ditangkis dengan keyakinan (baca: ilmu), dan godaan syahwat ditangkis dengan kesabaran.”
Setan memiliki dua pintu masuk untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Jika seseorang banyak melanggar dan berbuat maksiat, setan akan menghiasi maksiat dan nafsu syahwat untuk orang tersebut agar tetap jauh dari ketaatan. Sebaliknya jika seorang hamba taat dan rajin ibadah, setan akan membuatnya berlebihan dalam ketaatan, sehingga merusak agamanya dari sisi ini. Para ulama menyebut godaan jenis pertama sebagai syahwat, dan yang kedua sebagai syubhat. Meski berbeda, keduanya saling berkaitan. Syahwat biasanya dilandasi oleh syubhat, dan syubhat bisa tersemai dengan subur di ladang syahwat.

Berikut adalah kumpulan dari kajian yang menyampaikan jauhnya islam dari terorisme, silahkan dapat download kumpulan kajian radio rodja berkenaan dari permasalaham tersebut :

1. Terorisme Dalam Timbangan Syari’at Islam ( Syaikh Abdur Rozzaq Bin Abdul Muhsin Al Badr)

2. Membedah Akar Terorisme (Ustadz Abdullah zain MA)

3. Bentengi umm at dari Pemahaman NII (Ustadz Abu Qotadah)

4. Mengungkap Syubhat Terorisme (Ustadz Abu Qotadah)

5. Mengapa Terorisme Dikecam? (Ustadz Dr.Ali Musri MA)

6. Terorisme Bukan Jihad (Ustadz Abu haidar)

7. Hukum Bom Bunuh Diri (Ustadz Badrussalam)

 

wallaahua’lam semoga dapat bermanfaat bagi islam dan muslimin.

Fathimah binti Rasulillah

Fathimah binti Rasulillah

Siapa yang tak mengenal namanya, sekuntum bunga di tengah Bani Hasyim. Tumbuh di taman yang sarat cahaya kenabian, disunting pemuda yang memiliki kemuliaan. Tebaran ilmunya menghiasi sejarah perjalanan manusia.

Dialah putri seorang nabi, yang terlahir bertepatan saat kaum Quraisy membangun kembali bangunan Ka’bah. Fathimah bintu Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim Al-Hasyimiyah x. Ibunya seorang wanita yang tak asing lagi kemuliaannya, Khadijah bintu Khuwailid x. Dia lahir menjelang diangkatnya sang ayah sebagai nabi.
Dia tumbuh di bawah naungan ayah bundanya. Dia teramat dicintai dan dimuliakan oleh ayahnya.
Berangkat dewasa hingga memasuki 15 tahun usianya. Kala itu, datang seorang pemuda ke hadapan Rasulullah r, dengan sebuah hasrat memetiknya. Bertanya Rasulullah r kepadanya, “Apa yang engkau miliki sebagai mahar?” “Aku tidak memiliki sesuatu pun,” jawab pemuda itu. “Di mana baju besi yang pernah kuberikan padamu?” tanya Rasulullah r lagi. “Masih ada padaku,” jawabnya. “Berikan itu padanya,” kata Rasulullah r.
Dengan mahar itulah, empat bulan setelah berpengantin dengan ‘Aisyah x,  Rasulullah r menikahkan sang pemuda, ‘Ali bin Abi Thalib radliallahu anhu, dengan putrinya, Fathimah x. Saat itu, ‘Ali bin Abi Thalib z berusia 21 tahun 5 bulan sementara Fathimah menginjak 15 tahun 5,5 bulan usianya. Sebelum itu, Abu Bakr Ash-Shiddiq z pernah pula berniat meminang Fathimah x, begitu pun ‘Umar bin Al Khaththab z. Namun Rasulullah r tak menyambut pinangan mereka berdua dan menolaknya dengan halus.
Mempelai pengantin mulia yang begitu bersahaja. Tak ada pada mereka selain hamparan dari kulit dan bantal kulit yang berisi sabut. Berjalan seiring dalam rumah tangga yang begitu bersahaja. Mengambil air, menggiling tepung, mereka lakukan dengan kedua tangan mereka sendiri, hingga suatu saat mereka rasakan beratnya. Dada ‘Ali terasa sakit, tangan Fathimah melepuh karenanya. ‘Ali pun mengusulkan untuk meminta seorang pembantu kepada Rasulullah r yang saat itu Allah karuniai para tawanan.
Fathimah x datang kepada ayahnya. “Apa yang menyebabkanmu datang kemari, putriku?” tanya Rasulullah r ketika itu. Rasa malu menyelimuti Fathimah untuk mengutarakan maksudnya meminta seorang pembantu. Akhirnya dia hanya berucap, “Aku datang hanya untuk mengucapkan salam padamu”. Pulanglah ia kepada suaminya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya ‘Ali. “Aku merasa malu untuk meminta padanya,” jawab Fathimah. Lalu mereka berdua datang bersama ke hadapan Rasulullah r untuk menyampaikan keinginan mereka. Namun ternyata beliau menolaknya. “Demi Allah, aku tidak akan memberikannya pada kalian berdua sementara aku biarkan ahlus shuffah kelaparan karena aku tidak memiliki apa pun untuk kuinfakkan pada mereka. Aku akan menjual para tawanan itu dan menginfakkan hasilnya untuk mereka.” Kembalilah mereka berdua tanpa membawa apa yang mereka harapkan.
Saat mereka berbaring di tempat tidur, berselimut dengan selimut yang bila ditutupkan ke kepala terbuka kaki mereka, bila ditutupkan ke kaki terbukalah kepala mereka. Tiba-tiba datang Rasulullah r. Mereka berdua pun bergegas bangkit. “Tetaplah di tempat kalian!” kata Rasulullah r. Beliau berkata lagi, “Maukah kuberitahukan pada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta? Apabila kalian mulai berbaring di pembaringan kalian, bertakbirlah 33 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali.”
Betapa sang ayah yang mulia ini teramat mengasihi dan memuliakan putrinya. Bila sang putri datang, biasa Rasulullah r mengucapkan selamat datang padanya, menyambut dan menciumnya, lalu menggamit dan membimbing tangannya untuk didudukkan di tempat duduknya. Pun demikian sang putri memuliakan ayahnya. Bila sang ayah datang padanya, segera diucapkannya selamat datang kepadanya, seraya berdiri menyambut, menggamit tangannya dan mencium sang ayah. Duhai, kasih sayang yang kan terbaca setiap orang yang menyaksikannya.
Suatu ketika, ‘Ali bin Abi Thalib z berniat meminang putri Abu Jahl. Mendengar berita itu, Fathimah x datang mengadu kepada ayahnya. Naiklah Rasulullah r di atas mimbar. Setelah bertasyahud, beliau berkata, “Tidaklah aku mengharamkan yang halal dan tidak pula menghalalkan yang haram. Sesungguhnya Fathimah adalah darah dagingku, merisaukanku apa pun yang merisaukannya, dan menyakitkan aku apa yang menyakitkannya.” Beliau berkata pula, “Tidak akan berkumpul putri Nabi Allah dengan putri musuh Allah di bawah seorang pria selama-lamanya.” Mendengar itu pun, Ali membatalkan pinangannya.
Dia pulalah yang mendapatkan kemuliaan di antara keluarga Rasulullah r, mendengar kabar dekatnya ajal beliau. Ketika beliau sakit menjelang wafat, Fathimah x datang menemui. Sang ayah menyambutnya dengan ucapan selamat datang dan menciumnya, lalu berbisik-bisik kepadanya hingga Fathimah menangis. Kemudian beliau berbisik lagi padanya, lalu Fathimah pun tertawa.
Betapa pemandangan itu mengherankan para istri Rasulullah r, sampai-sampai ‘Aisyah bertanya padanya, “Apa yang beliau katakan padamu?” “Aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah r,” jawab Fathimah. Setelah Rasulullah r wafat, Fathimah x pun menyampaikan jawabannya, “Waktu itu beliau membisikkan padaku, ‘Sesungguhnya aku hendak meninggal’. Mendengar itu, aku pun menangis. Lalu beliau berbisik lagi, ‘Sesungguhnya engkau adalah orang pertama di antara keluargaku yang akan menyusulku’. Hal itu membuatku gembira.”
Sepeninggal Rasulullah r, Fathimah menemui Abu Bakr Ash-Shiddiq z untuk meminta bagian warisannya. Abu Bakr z pun mengatakan padanya, “Rasulullah r berkata: ‘Kami tidak mewariskan. Segala yang kami tinggalkan adalah sedekah’.” Marahlah Fathimah kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq z dengan jawaban itu. Kemarahan itu terus tersisa hingga menjelang Fathimah x wafat.
Benarlah apa yang dikabarkan oleh lisan mulia Rasulullah r. Sekitar enam bulan setelah Rasulullah r wafat, Fathimah x menyusul sang ayah menghadap kepada Rabbnya U.
Ketika Fathimah x tengah sakit menjelang wafatnya, Abu Bakr z datang, meminta izin untuk menemui Fathimah. Pada saat itu Abu Bakr z meminta kelapangan Fathimah x untuk memaafkan apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Fathimah. Fathimah pun melapangkan hati memberikan maaf dan ridha kepada Abu Bakr z.
Tak lama berselang, pada bulan Ramadhan tahun kesebelas setelah kenabian, Fathimah x, kembali ke hadapan Rabbnya pada usianya yang ke-29. Jauh sebelum meninggal, Fathimah pernah berpesan pada Asma’ bintu ‘Umais x, agar tak seorang pun masuk untuk memandikan jenazahnya kecuali suaminya, ‘Ali bin Abi Thalib z dan Asma’. Demikianlah, Asma’ bintu ‘Umais x menunaikan pesan Fathimah.
Datanglah ‘Aisyah x untuk turut memandikannya, namun Asma’ melarangnya hingga ‘Aisyah mengadu kepada ayahnya. Abu Bakr z pun datang dan berdiri di pintu sembari menanyakan peristiwa itu kepada Asma’. “Dulu Fathimah menyuruhku demikian,” ucap Asma’. “Jika demikian, lakukan apa yang dia perintahkan,” jawab Abu Bakr, lalu beranjak pergi.
Fathimah diusung dengan keranda yang dibuat oleh Asma’ bintu ‘Umais x. Jenazahnya dibawa turun ke kuburnya oleh ‘Ali bin Abi Thalib, Al-’Abbas bin ‘Abdil Muththalib dan Al-Fadhl bin Al-’Abbas g. Malam itu, Fathimah x dikuburkan oleh suaminya, ‘Ali bin Abi Thalib z.
Fathimah x telah tiada. Namun dia tinggalkan ilmu yang diambilnya dari sang ayah kepada beberapa shahabat; putranya Al-Hasan bin ‘Ali, ‘Aisyah, Ummu Salamah, Anas bin Malik dan yang lainnya g. Dialah yang mendapatkan janji dari lisan Rasulullah r yang mulia, sebagai pemimpin para wanita kaum mukminin di surga.
Fathimah bintu Rasulullah r, semoga Allah meridhainya….

(ditulis oleh: Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)
Majalah AsySyariah Edisi 013

 

Sumber bacaan :
·  Al-Isti’ab,  Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1893-1899)
· Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’ad (8/19-29)
· Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz Dzahabi (2/118-134)