Beginilah Seharusnya Menjadi Seorang Pendidik

Beginilah Seharusnya Menjadi Seorang Pendidik

WAHAI AYAH BUNDA…  WAHAI PARA GURU…

Apakah engkau mengetahui dan menyadari bahwa engkau adalah seorang pendidik? Engkau sedang menjalani profesi termulia yang ada di muka bumi ini sebagaimana profesi seluruh Nabi Alaihimus salam yang diutus untuk mendidik manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa tujuan diutusnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam adalah unntuk melaksanakan ta’lim(pendidikan)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus seorang Rosul (Muhammad) ditengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri. Yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab (Al Qur’an) dan hikmah (sunnah) meskipun sebelmnya mereke benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS: Ali Imran:164)

Engkaulah pewaris Nabi alaihis shalatu wassalam dalam ilmu dan amalnya jika engkau ikhlas dan tulus dalam mendidik. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. siapa yang mengambilnya sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Tirmizi No.2682 dari sahabat Abu Darda Radhiallahu’anhu dengan derajat shahih)

 KARAKTER YANG HARUS DIMILIKI OLEH SETIAP PENDIDIK

Ikhlas

Inilah prinsip pertama yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yaitu mengikhlaskan ilmu dan amal untuk Allah semata. Betapa banyak ilmu yang bermanfaat dan amalan yang mulia untuk umat, tetapi pemiliknya tidak mengikhlaskan ilmu dan amal untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagia tujuan mereka untuk meraih kehormatan atau kedudukan semata.

Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya , “… dan seorang laki-laki yang belajar dan mengajarkan ilmu serta membaca Al Qur’an lalu ia didatangkan dan Allah mengingatkan nikmat-nikmat-Nya (kepadanya) dan dia mengakuinya. Allah berfirman, ‘apa yang kamu lakukan terhadapnya?’, dia berkata ‘saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al Qur’an (ikhlas) demi engkau’. Allah berfirman ‘kamu dusta. Akan tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan seorang yang alim. Kamu membaca Al Qur’an supaya dikatakan qaari. Dan (itu semua) telah diucapkan (padamu)’.  Setelah itu diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api neraka…” (HR. Muslim No.1905 dari Sahabat Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

Jujur

Jujur adalah mahkota yang ada di atas kepala seorang pendidik. Jika sifat tersebut luput darinya manusia tak akan lagi mempercayai ilmu dan pengetahuannya. Anak-anak sangatlah mempercayai dan menerima setiap apa yang disampaikan oleh pendidiknya. Jika seorang anak menemukan kedustaan pendidiknya di sebagian perkara, hal itu secara otomatis akan berpengaruh kepadanya. Kewibawaannya akan jatuh di hadapan anak-anaknya. Jujur adalah kunci keselamatan seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Allah telah memuji orang-orang yang jujur dan memerintahkan setiap mukmin agar menjadi seperti mereka dengan firman-Nya yang artinya, “wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At Taubah:119)

Serasi antara Ucapan dan Perbuatan

Allah ta’ala berfirman yang artinya “wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan di sisi Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff:2-3). Seorang pendidik adalah orang yang paling membutuhkan konsistensi dalam hal ini karena dia adalah suri tauladan yang ucapan dan perbuatannya senantiasa menjadi panutan anak didiknya. Bila Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam memerintahkan terhadap sesuatu, beliaulah yang pertama kali melakukannya.

Bersikap Adil dan Tidak Berat Sebelah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah:8). Para pendidik akan dihadapkan dengan banyak permasalahan dari anak-anak didiknya. Tidak ada tempat untuk mengutamakan sebagian anak didik diatas sebagian yang lain.

Berakhlak Mulia dan Terpuji

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sosok yang paling suci dari segi ruh dan jiwa. Beliau adalah sosok yang memiliki akhlak yang sangat agung. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya “dan sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam:4)

Anak-anak sangat membutuhkan sifat lembut, santun, sabar, bijak, ramah dan perlakuan yang baik dari para pendidik. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh abu darda radhiallahu’anhu “tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlah yang baik”. (HR. Abu Daud no.4799 dengan derajat shahih)

Rendah Hati

Kerendahan hati yang dimiliki oleh seorang pendidik akan menambah kehormatan dan kewibawaannya, bukan sebaliknya. Seorang pendidik yang rendah hati akan dicintai oleh anak-anak didik mereka. Sebaliknya sikap  takabbur (sombong) akan menjauhkan anak-anak didik dari seorang pendidik. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian bersikap tawadhu (rendah hati) sehingga tidak ada yang membanggakan dirinya diatas yang lain. Tidak pula menzalimi yang lain.” (HR. Muslim no.2588 dari Sahabat Iyadh bin Himar radhiallahu’anhu)

Sabar dan Mampu Mengontrol Emosi

Sabar adalah kedudukan yang sangat tinggi dan tak akan mungkin di gapai, kecuali oleh mereka yang memiliki semangat yang tinggi dan jiwa yang suci. Ia membutuhkan adaptasi dan latihan yang cukup panjang. Hilangnya kesabaran bisa menerjunkan seorang pendidik ke dalam jurang permasalahan yang demikian dalam, terlebih proses pembelajaran di dalam kelas. Oleh karena itu seorang pendidik sangatlah dituntut untuk menghiasi dirinya dengan sikap sabar. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “bukanlah orang yang kuat yang selalu menang dalam berkelahi. Akan tetapi, orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (Mutafaq alaihi dari Sahabat Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

Itulah diantara karekteristik yang seharusnya dimiliki oleh seorang pendidik, baik dia bertindak sebagai orang tua  maupun guru. Mudah-mudahan Allah ta’ala memberikan kita taufik untuk dapat menjadi pendidik sukses yang dapat menebar banyak manfaat kepada orang lain. Aamiin.

(Disarikan dari sebuah buku berjudul “Begini seharusnya menjadi guru” buah karya Fu’ad bin Abdul Aziz Syalhub hafidzahullah, penerbit Darul Haq, cet. VII, tahun 2014)

  • Date:

    2016-12-15 07:12:07

  • Author:

    muhammad awaluddin

  • Narasumber:

    Ust Muhammad Fajar Basuki, Lc (Pengajar Konsultan Keislaman Bintang Pelajar)

Nasehat Emas Imam Asy-Syafi’i

Nasehat Emas Imam Asy-Syafi’i

Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i,

Aku melihat pemilik ilmu hidupnya mulia walau ia dilahirkan dari orangtua terhina.
Ia terus menerus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia.
Umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing ke sana sini diikuti hewan piaraan.
Jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia dan tidak mengenal halal dan haram.

Diantara keutamaan ilmu kepada penuntutnya adalah semua umat manusia dijadikan sebagai pelayannya.
Wajib menjaga ilmu laksana orang menjaga harga diri dan kehormatannya.
Siapa yang mengemban ilmu kemudian ia titipkan kepada orang yang bukan ahlinya karena kebodohannya maka ia akan mendzoliminya.

Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diraih kecuali dengan enam syarat dan akan aku ceritakan perinciannya dibawah ini:
Cerdik, perhatian tinggi, sungguh-sungguh, bekal, dengan bimbingan guru dan panjangnya masa.
Setiap ilmu selain Al-Qur’an melalaikan diri kecuali ilmu hadits dan fikih dalam beragama.
Ilmu adalah yang berdasarkan riwayat dan sanad maka selain itu hanya was-was setan.

Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,
Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.
Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.
Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.

Ilmu adalah tanaman kebanggaan maka hendaklah Anda bangga dengannya. Dan berhati-hatilah bila kebanggaan itu terlewatkan darimu.
Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian.
Pengagum ilmu akan selalu berusaha baik dalam keadaan telanjang dan berpakaian.
Jadikanlah bagi dirimu bagian yang cukup dan tinggalkan nikmatnya tidur
Mungkin suatu hari kamu hadir di suatu majelis menjadi tokoh besar di tempat majelsi itu.

***
Disadur dari kitab Kaifa Turabbi Waladan Shalihan (Terj. Begini Seharusnya Mendidik Anak), Al-Maghrbi bin As-Said Al-Maghribi, Darul Haq.
Artikel Muslimah.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/2739-nasehat-emas-imam-asy-syafi%E2%80%99i.html

​SURGA DUNIA dalam MENDIDIK ANAK

​SURGA DUNIA dalam MENDIDIK ANAK

Sebenarnya …
Mendidik anak itu menjadikan hati tenang

Mendidik anak itu menyebabkan kebahagiaan

Karena mendidik anak itu bagian dari kenikmatan SURGA DUNIA
Tapi.., kenyataannya seringkali…

Masih panik dalam mendidik anak.

Masih marah-marah dalam mendidik anak.

Masih menderita karena sebab mendidik anak.

Masih membuat anak tertekan dalam mendidiknya.
Itu bisa jadi CARA MENDIDIKNYA BELUM BENAR, karena mendidik itu asalnya mudah, tenang, menyenangkan, membuat  bahagia, dan terasa nikmat.
Mendidik itu perintah Agama.

Melakukan perintah Agama itu ibadah

Sedangkan ibadah yang ikhlas dan benar (sesuai petunjuk Allah dan Rasul Nya) akan mendatangkan kebahagiaan.

Kebahagiaan  sejati didunia ini dinamakan SURGA DUNIA

Masuk SURGA DUNIA, menyebabkan seseorang akan masuk SURGA di AKHERAT. 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
إنَّ فِيْ الدُّنْيَا جَنَّةً, مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَنْ يَدْخُلَ جَنَّةَ الآخِرَةِ.
“Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa yang tidak memasuki surga dunia ini, maka dia tidak akan masuk surga di akherat”
SURGA DUNIA itu adalah keimanan kepada Allah ta’ala, diantaranya meyakini bahwa:

– Mendidik anak adalah perintah Allah ta’ala (QS. At Tahrim: 6)

– Membenarkan petunjuk cara mendidik yang telah Rasulullah ajarkan .
Sehingga keimanan itu menyebabkan keikhlasan kepada Allah ta’ala, dan pada akhirnya mendidik anak mengikuti petunjuk dari Nya dan Rasul Nya.
Inilah kenikmatan mendidik …

Inilah kenikmatan ibadah …

Inilah ketenangan sejati …

Inilah kebahagiaan sejati …

Inilah SURGA DUNIA dalam mendidik anak-anak kita.
Dan semoga Allah Ta’ala kelak memasukkan kita dan keluarga kita ke SURGA Nya di AKHERAT.

Aamiin …
Ditulis oleh : Kholik

Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang

​PEMBEBANAN dan PEMIKUL BEBAN

​PEMBEBANAN dan PEMIKUL BEBAN

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MEMBACA, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MEMBACA.
Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MENULIS, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MENULIS.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak BERHITUNG, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA BERHITUNG.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak MENGHAFAL, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA MENGHAFAL.
Padahal membaca, menulis, berhitung, menghafal dan sejenisnya adalah BEBAN BERAT jika TIDAK ADA rasa CINTA untuk melakukannya.
Kalau cinta TIDAK tumbuh, beban seRINGAN apapun akan terasa SANGAT BERAT.

Kalau cinta TELAH tumbuh, beban seBERAT apapun akan terasa SANGAT RINGAN.
Tumbuhkan cinta anak kepada bidang yang nantinya akan dibebankan kepadanya. Kalau cinta TIDAK berkunjung TUMBUH-TUMBUH, bisa jadi anak tidak berbakat di bidang tersebut, maka carilah bidang lain yang anak senangi.
Jangan paksakan kepada anak bidang yang tidak dia senangi. Tetapi gali dan temukan bidang apa yang disenanginya. Lalu pupuk dan tumbuhkan kecintaannya, setelah cintanya tumbuh maka kemudian dengan sendirinya dia akan MEMINTA diberi beban.
Gali bakat anak dengan memperbanyak aktifitas, lalu perhatikan aktifitasnya dengan 4E: Enjoy, Easy, Excellent, Earn

✅Enjoy       : Senang melakukannya

✅Easy        : Mudah melakukannya

✅Excellent : Bagus hasilnya

✅Earn         : Bermanfaat hasilnya

Jika 4E terpenuhi pada aktifitas tertentu maka itulah bakatnya.

Kalau sudah bakat, CINTA akan tumbuh dengan sendirinya, BEBAN akan diminta dengan sendirinya, dan hasilnya akan BAGUS dan BERMANFAAT.

Inilah BAKAT/KARAKTER KINERJA
Di sisi lain …
Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak SHOLAT, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA SHOLAT.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak PUASA, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA PUASA.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak  MENGHAFAL AL QUR’AN, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA AL QUR’AN.

Banyak diantara pendidik dan orang tua yang mengajarkan anak SYARI’AT, tetapi tidak ditumbuhkan terlebih dahulu CINTA kepada PEMBERI SYARI’AT, yaitu Allah Ta’ala.
Hal ini berarti mengajarkan TAKLIF (pembebanan Syari’at) tetapi tidak menyiapkan anak menjadi MUKALLAF (pemikul Syari’at)
Sholat dan syari’at lainnya adalah beban . Tidak ada anak yang suka sholat, karena sholat adalah beban, kecuali telah tumbuh kecintaan kepada yang memerintah sholat yaitu Allah ta’ala.
Kalau cinta kepada Allah telah tumbuh, maka beban Syari’at seberat apapun akan terasa ringan dilakukan, bahkan sampai berjihadpun akan ringan dilakukan. 

CINTA kepada ALLAH harus tumbuh sebelum memikul beban SYARI’AT .

Kalau cinta Allah TIDAK TUMBUH-TUMBUH, maka harus ditumbuhkan, seperti dengan keteladanan, dibacakan sejarah para Nabi dan Rasul, sahabat Nabi, orang-orang sholeh, serta dibimbing untuk belajar bersama alam agar tumbuh imaji positif terhadap Allah, belajar, dan alam.
Tidak ada kata berbakat atau tidak berbakat pada beban syari’at, semua anak harus CINTA kepada ALLAH dan RasulNya, semua anak harus mampu memikul beban Syari’at nantinya saat mereka sudah BALIGH.

Inilah AKHLAQ/Karakter Moral
Cinta kepada Allah ditumbuhkan pada usia 0-7 tahun. Tidak ada pembebanan Syari’at pada usia ini, adanya hanyalah penumbuhan rasa cinta kepada Allah yaitu penumbuhan keimanan kepada Allah ta’ala, cinta belajar, dan cinta kepada alam. 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع (أبو داود والحاكم)

“Perintahkan anakmu sholat pada saat umur 7 tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau sholat pada saat umur 10 tahun, dan pisahkan tempat tidurnya diantara mereka” (HR: Abu Dawud)
Berdasar hadits tersebut, seorang anak baru diajarkan sholat pada umur 7 tahun, bukan sebelumnya, boleh dipukul pada umur 10 tahun, dan mulai dibebani kewajiban sholat setelah Baligh.

Jadi, Bukan berarti pegajaran lebih dini lebih baik, tetapi harus sesuai dengan perkembangan anak.
Ditulis oleh : Kholik

Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang

Pendidikan karakter berbasis Akhlaq, belajar dan Bakat

Beranda

PEMAKSAAN CITA-CITA

PEMAKSAAN CITA-CITA

Pengalaman mendampingi pemetakan bakat siswa SMK, banyak hal yang menjadi bahan renungan, diantaranya banyak siswa dalam menentukan cita-citanya karena “pesanan” dari orang tuanya.
Padahal sebenarnya cita-cita pesanan tersebut tidak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Dengan dalih bakti pada orang tua, akhirnya mereka harus terpaksa rela menempuh jalan  yang bukan untuknya.
“Sebenarnya saya ingin kuliah di jurusan ini…, tapi orang tua ingin saya kuliah di jurusan itu”. Ungkapan siswa yang lain dengan wajah setengah hati, “ saya ingin bekerja sebagai ini…, tetapi orangtua ingin saya bekerja sebagai itu”. 

Bukan hanya di SMK, di Pondok Pesantren pun muncul ungkapan senada dari seorang santri,  “ sebenarnya saya kelak ingin jadi ini…, tetapi orang tua ingin saya jadi seorang ustadz…”
Data yang mengejutkan…!, 90% dari siswa yang dipetakan ingin melanjutkan jenjang berikutnya yang tidak sama dengan jurusan yang sekarang dia tekuni.

Salah jurusan …

Ya, mereka salah jalan …
Saya yakin, jika di Pondok Pesantren di lakukan survey, banyak dari santri yang salah jurusan juga. Tidak semua santri ingin jadi ustadz. Banyak diantara mereka yang ingin berperan dalam masyarakat pada bidang yang bukan bidang diniyyah (Agama).

Betul, setiap orang wajib hukumnya belajar Agama …

Tetapi tidak semua orang berbakat dalam bidang Agama.
Ada yang salah…?

Jelas ada yang salah…!

Karena ini adalah pemaksaan cita-cita…!

Tanpa disadari orang tua telah menyesatkan anaknya, karena seorang anak dipaksa menempuh yang bukan jalannya.

Akhirnya banyak anak yang menjadi “korban penyesatan” oleh orang tuanya.

Tanpa disadari …

Ya, ini terjadi tanpa disadari oleh orang tuanya. Karena tidak ada orang tua yang ingin menyesatkan anak-anaknya.

Ini terjadi karena orang tua belum mengetahui jalan khusus yang telah Allah ta’ala ciptakan bagi anaknya.
Imam Ibnul Qoyyim mengatakan: “Jika anak dipaksakan untuk menekuni bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan berhasil di bidang itu, dan akan luput potensi yang ada pada dirinya”. Lanjut beliau ringkasnya, “ Jika anak berbakat di bidang Agama maka itulah kesempatan baginya untuk mengukir ilmu Agama pada lubuk hatinya. Namun jika anak cenderung kepada ilmu keduniaan (seperti pertanian, perdagangan, industri dan lainnya) maka tidak mengapa diarahkan untuk menekuni bidang tersebut selama diperbolehkan oleh syari’at. Setiap orang akan dimudahkan untuk berperan pada bidang apa dia diciptakan”
Mari kita gali potensi anak-anak kita …

Kita temukan bakat anak-anak kita … 

Kita temukan misi hidup anak-anak kita …

Kita temukan jalan khusus bagi anak-anak kita …

Karena dengan membimbing anak kita untuk berjalan pada jalan bakatnya, maka akan menjadi lebih hebat untuk berperan bagi peradaban.
Allah ta’ala berfirman : “ Katakanlah wahai Muhammad, setiap orang akan bekerja sesuai bakatnya masing-masing, maka Tuhanmulah yang lebih tahu siapa yang paling benar jalannya” (QS. Al Isra’ :84)
Bakat adalah karakter kinerja, maka agar kinerja sesuai dengan yang diharapkan, maka sangat penting ditumbuhkan juga karakter moralnya, yaitu Aqidah, Ibadah, Adab, dan Akhlaq.

Sehingga terpenuhilah amanah yang dipikulkan pada setiap manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah ta’ala dan menjadi khalifah di muka bumi ini.
Semoga Allah ta’ala selalu membimbing kita dan generasi masa depan bangsa kita. 
Kholik

Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang

PABRIK MESIN itu bernama SEKOLAH

PABRIK MESIN itu bernama SEKOLAH

Pabrik mesin memproduksi alat-alat/mesin-mesin untuk fungsi tertentu.

Sekolah mendidik manusia untuk menjadi kompeten pada bidang tertentu.

Setelah mesin keluar dari pabrik, lalu digunakan oleh orang untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.
Setelah siswa lulus sekolah, lalu dipekerjakan oleh orang lain untuk mengerjakan pekerjaan tertentu.

Mesin digunakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.
Tamatan sekolah dipekerjakan untuk menghitung, menganalisa, memperbaiki, mengingat, dan sejenisnya.

Pabrik menggunakan prosedur operasional untuk membuat mesin menjadi berfungsi.
Sekolah menggunakan kurikulum untuk membuat siswa menjadi kompeten.

Sekolah sama dengan pabrik?
Hanya beda istilah dan obyek yang dikerjakan..!
Tergantung bagaimana Anda menilainya.

Apa yang harusnya beda..?

Manusia bisa berempati, mesin tidak bisa.
Manusia bisa memotivasi, mesin tidak bisa.
Manusia bisa menyakini, mesin tidak bisa.
Manusia bisa Ikhlas, mesin tidak bisa.

Mesin diprogram oleh manusia yang terbatas pengetahuannya, tetapi manusia di program oleh Yang Tak Terbatas PengetahuanNya.
Jelas…, manusia tidak sama dengan mesin
Jelas juga…, seharusnya sekolah tidak sama dengan pabrik.

Seharusnya sekolah tidak berat sebelah terlalu terkonsentrasi pada pendidikan HARD SKILL yang bisa tergantikan oleh mesin.
Namun …juga seharusnya terkonsentrasi pada pendidikan SOFT SKILL yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Hard skill adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
Soft skill adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, dirinya, dan kepada Allah ta’ala.

Setiap orang hendaknya memiliki Hard skill dan soft skill dalam mengarungi kehidupannya. Sehingga manusia dapat melakukan apa yang bisa dilakukan mesin, tetapi tidak semua yang bisa dilakukan manusia dapat dilakukan oleh mesin.

Kholik
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang